Review Polygon Collosus AM 2.0


Dear goweser,

Tadi malam Collosus saya selesai dirakit di Rodalink, dengan spek :

- Frame : Polygon Collosus 2.0
– Spek frame : All Mountain
– Rear Shock : Suntour Raidon LO (with lockout)
– System suspensi : 4 Quad Suspension system
– Group Set : Deore hidrolik (full non mix)
– Fork : RockShox Tora 318, (85 – 130mm, lock, Rebound and travel adjuster)
– Pedal : Shimano M-520
– Handlebar : Amoeba Borla
– Stem : Uno
– Seat Post : Zoom
– Inner cable : XTR
– Saddle : Velo
– Tire : Maxxis “High Roller” 2.10

Spek di atas berbeda dengan spek Collosus AM 2.0 yang dijual fullbike oleh Rodalink.

Penasaran dengan spek frame All Mountain setelah sebelumnya mencoba frame spek XC : Giant ATX 7 (hardtail), frame spek Trail : Da Bomb “Target” full suspension.

Semua parts yg saya test di Collosus AM 2.0 sama dengan yg pernah terpasang di Giant ATX 7 dan Da Bomb “Target”.

Jadi hari ini pengetesan benar2 hanya mencoba frame saja karena parts yg digunakan benar2 berbeda dengan racikan Rodalink.

15 teman gowes menemani saya untuk test Collosus AM 2.0. Sepeda fullsus yg menemani ada Patrol AMP, Mosso 668 FR, Specialized XC, Collosus AX 1.0, dan polygon beyond, sedangkan dari jajaran hardtail ada Xtrada 5.0, Da Bomb Rapid, Premier 3.0, Dominated 2011, Giant ATX pro, United Monarch, jenis lain saya lupa.

Riding position di frame Collosus AM 2.0 ini sangat berbeda dengan beberapa jenis frame yg pernah sya coba, ada sensasi tersendiri saat duduk dan memegang handlebar, design frame yg slop memang mengakibatkan sepeda terlihat kecil secara visual, (ukuran frame 16″). Design slop ini juga memudahkan goweser dengan tubuh kecil untuk menunggangi sepeda ini, apabila dihitung titik hubung antara top tube dan seat stay hanya 12″.

Tahap awal kami sengaja memilih trek dengan tipikal Cross Country dengan jarak tempuh 35 km. Medan yang kami lalui beragam, aspal, beton, jalanan berlubang, sedikit tanjakan dan turunan. Track Nawit di wilayah Setu Bekasi kami sambangi. Berikutnya pengetesan akan dilakukan di trek yang lebih extreem.

Awal perjalanan diawali dengan jalanan kompleks yg banyak polisi tidur dan lubang2 kecil, test shock Suntour Raidon LO (eye to eye 19cm, travel shock 50mm, tekanan angin 270 psi, maksimum 300 psi). Posisi lock off, kinerja Raidon dirasakan mumpuni untuk meredam lubang2 kecil di jalanan kompleks, posisi bokong sengaja tidak pernah diangkat saat ban masuk lubang.

Frame terasa stabil dan tidak mengayun alias tetap datar, sementara hasil pengamatan Patrol AMP di belakang mengatakan bahwa travel belakang bergerak normal, kesimpulannya untuk lubang2 kecil yang bermain hanya link frame bagian belakang saja…

Test selanjutnya di polisi tidur, beberapa kali sepeda dipacu kencang dan memanfaatkan polisi tidur yang ada sebagai tempat mulai meloncat… Gowessssss dan loncattt!!! Setelah beberapa kali dicoba terasa benar keunggulan geometry frame ini, lebih stabil dan saat mendarat tidak terasa efek pantul yang besar, serasa menggunakan sepeda spek DH.

Tahap berikutnya adalah jalanan beton yang mulus dan sedikit menanjak, fungsi lock di shock Raidon dan Tora 318 segera diaktifkan, serasa ada tambahan tenaga saat gowes di jalanan mulus dan fungsi peredaman depan belakang dimatikan. Gungsi lock out ini sangat efektif karena menghemat tenaga goweser dijalanan mulus dan menanjak. Tenaga yang disalurkan dengkul langsung menjadi power untuk menggerakan sepeda maju tanpa membuang tenaga sia2 karena ayunan suspensi belakang.

Setelah mencoba fungsi lock, berikutnya saya coba di jalanan yang sama tapi dengan mematikan fungsi lock, perbedaan yang dirasakan sangat sedikit, ayunan di ban belakang sangat minim dan bisa diabaikan, distribusi tenaga tetap tersalur dengan efektif untuk menambah laju sepeda.

Designer frame ini patut diacungi jempol… Sepeda tetap melaju dengan stabil, kecepatan saat mencoba adalah 25 km/jam saja.

Tahap selanjutnya adalah tanjakan dan jalanan jelek dengan lubang2 besar, seta beberapa kubangan akibat hujan semalam.

Saat menaiki tanjakan tidak ada efek bobbing di roda belakang, transmisi tetap stabil tidak ada gejala pindah sendiri dan tegangan rantai tidak berubah, lagi-lagi designer frame ini patut diacungi jempol. Suspensi belakang berfungsi dengan baik dan selalu membuat grip ban menempel di jalanan, tidak ada efek spin. 4 Quad Suspension System bekerja dengan baik.

Belum puas menikmati tanjakan batu kami disodori tanjakan tanah, jalanannya kecil, berliku dan licin akibat sisa-sisa air hujan semalam masih ada. Lagi-lagi saya coba memacu sepeda di trek licin ini, mungkin ini sebabnya di sebut All Mountain, enak juga ternyata di tanjakan licin dan berliku, sepeda masih mudah dikendalikan, handling mantab, selip-selip sedikit saat roda depan masuk jalur air masih bisa dilayani oleh frame Collosus AM 2.0.

Selesai menikmati tanjakan kami disodori jalanan berlumpur dan Jalur Pipa Gas seputaran Setu bekasi. Beberapa sepeda di depan terlihat mulai memanen lumpur di ban, penasaran juga ingin melaju, akhirnya masuk juga track lumpur, Maxxis High Roller mulai menjadi donuts, was2 donut tadi akan menghambat laju Collosus, ternyata lumpur itu tidak nyangkut di frame, jarak antara roda dengan frame bagian bawah dekat Bottom Bracket jauh, lumpur tidak menggangu putaran ban. Sayangnya di frame bagian bawah ada seperti wastafel yang sanggup menampung air dan atau lumpur. Coba bagian itu rata tanpa perlu cekukan.

Melaju lagi menuju jalanan jelek, lubang besar2 dan banyak kubangan, untungnya track datar, Collosus dipacu dengan kencang. Sepeda mulai disiksa untuk merasakan seberapa ergonomis sepeda ini… Lumayan juga kenyamanannya handling enak dan tetap stabil, tidak ada efek liar dan sruntulan, sepeda tetap mudah dikendalikan walau ada belokan2 tajam.

Selesai jalanan jelek saya melihat jalan beton dan turun, lumayan bisa hemat tenaga, sesaat sebelum turun Collosus saya genjot dengan kencang, serrrrr masuk turunan dengan belokan2 tajam… Sepeda mulai terasa liar dan susah dikendalikan… Aneh… Jalan mulus, turun dengan kecepatan tinggi kurang nyaman bagi sepeda ini, sepeda seperti susah dikendalikan…

Tidak lama kemudian kami masuk jalan datar penuh lumut.. Licin… Kecepatan gowes dikurangi… Lumayan juga buka pasang cleat sepatu karena sedikit2 ban belang spin, takut nyemplung sawah… Hihihi…

Akhirnya ketemu jalanan aspal, beberapa lubang menganga di kiri kanan… Ini saatnya ujian berikutnya…. Sepeda saya pacu kencang, dan menjelang lubang sepeda saya buat jumping untuk melewati lubang itu… Saat mendarat cukup empuk dan sepeda mudah dikendalikan, efek pantul dari suspensi belakang minimal sekali sehingga sepeda tetap stabil.

Beberapa turunan tanah menanti di depan… Seperti biasa sepeda saya pacu untuk mengetahui seberapa enak sih melahap turunan tanah, semi makadam… Gejala liar dan oleh tidak terasa. Beberapa gundukan saya jadikan tumpuan untuk membuat sepeda meloncat, tetap stabil juga di turunan offroad, kadang2 gravel, kadang batu tetap nyaman dan ergonomis…

Usai mencoba beberapa macam track, pertukaran sepeda terjadi diantata kami, beberapa rider dengan jam terbang lumayan ditawari untuk menjajal Collosus dengan kata sambutan : pake kasar aja, sikat lubang2 yg ada, gowes pol, bokong ga usah diangkat, jangan takut frame patah karena masih garansi 5 th…. Sayang hanya 5 tahun, bandingkan dengan united yang sanggup memberi garansi seumur hidup kalau frame patah.
Walau ga mungkin juga sih sepeda itu kita pake 5 tahun apalagi 10 tahun dan seterusnya, pasti keburu dijual atau tuker frame deh.

Semua penggowes yang mencoba Collosus AM 2.0. Mengatakan hal yang sama… Enak dan nyaman…
Penggowes yang mencoba Collosus sengaja dipilih dari penggowes hardtail dan fullsus.

Setelah sampai rumah saya temukan lagi kelemahan Collosus, yaitu panting, cat di dekat seatpost agak aus kena gesekan kabel shifter, beda halnya saat saya menggunakan Da Bomb, gesekan kabel tidak mempengaruhi cat yang ada, rasanya pabrikan Polygon di sidoarjo sana perlu memperbaiki kualitas pengecetannya.

Pengujian geometry dan kekuatan frame ini akan dilakukan sabtu ini di track Cidampit, serang.

Ayo siapa mau ikut ke cidampit? Skalian ngetes Collosus AM 2.0

Ga nyangka juga ya polygon bisa buat sepeda enak, kesimpulan saya kemampuan sepeda ini sudah bisa dibandingkan dengan frame2 import yang lain, performa nya patut diancungi jempol, walau kadang2 merk Polygon hanya dilirik sebelah mata tapi untuk premium class nya (seri Collosus) patut mendapat acungan jempol.

Mungkin kalau diadakan komparasi antara merk lokal dengan merk import sebelum sepeda dilempar ke pasar dan merk sepeda ditutupi kita akan merasakan kenyamanan dan atau ketidaknyamanan yang sama antara merk lokal dengan merk asing.

Salam Collosus
Eko probo

Powered by DaBombBerry®
LintasBukitAntarGunung
“Alam Adalah Kawan Bukan Lawan”

11 pemikiran pada “Review Polygon Collosus AM 2.0

  1. salam kenal juga om teguh
    perbedaan Collosus AX 1.0 (2011) dan AM 2.0 adalah geometry dan beberapa komponennya, misalnya Fork, sedangkan rear shock masih sama menggunakan Suntour Raidon LO, kemudian brake lever dan lainnya.
    Saran saya sih naikin speknya sedikit ke AX 2.0 karena rear shocknya udah menggunakan Fox Float RP2

    Spek sepeda ini untuk All Mountain, bagus dan enak digunakan

    salam gowes

  2. iya beda di geometrynya, seat tube angle AX lebih landai dan banyak lagi yang beda, perhatikan frame belakang di atas Chain stay juga berbeda, kalau kembali ke masalah budget ya ga apa2 sih ke AX 1, kan hanya beda di rear shock nya aja. saya pernah baca di salah satu majalah sepeda edisi All Mountain Battle, ternyata setelah di tes performa collosus AX 3.0 diatas sepeda2 sejenis merk luar. AX 1.0 dan AX.3.0 hanya beda komponen saja, geometry sih sama. sudah coba pertimbangkan merk lain?

  3. wah makin demen ni ma ax1.
    tadinya pilihan saya cosmic cx 5 2011 series. tp setelah liat reviews dr om, jd harus mikir2 lg wat kdepannya..
    alnya dapet denger2 dr temen series cosmic terlalu ringkih bwat di hajar..
    kalo orang bali bilang “bes lemet” hahaha..

    • Beberapa sepeda fullsus memang terasa lebih berat di tanjakan karena efek bobbing suspensi belakang, ada beberapa rear suspension yang dilengkapi dengan fungsi lock out, rebound, pre load adjuster, coba diatur rebound lambat atau fungsikan lock (kalau ada) saat nanjak. Keunggulan frame fullsus dibandingkan hardtail bisa terasa di tanjakan offroad, batu2an, ban akan lebih nempel di tanah karena suspensi belakang akan selalu mendorong ban ke bawah, kalau hardtail tidak begitu. Intinya baik fullsus atau hardtail mempunyai kelebihan dan kekurangan. Selamat gowes om.. Kapan2 kita gowes bareng yuk.

  4. Om sy lagi cari bushing untuk suspension system sepeda ini. Tolong bantu Om kerna Rodalink di tempat sy (Singapore) tidak ada spare part nya lagi.

  5. om, gimana tanggapan om, saat ini aku pakai cosmic 2.0 ukuran S ring 26″… untuk jalan aspal yang banyak tanjakan tinggi di papua,,,, mohon saran dan masukannya yaa,,, trims sblmnya

    • Sepeda bagus itu om, hardtail emang enak untuk tanjakan, tapi kalau untuk di jalanan aspal sebaiknya ganti ban yg lebih kecil dan untuk aspal supaya lebih ringan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s