TIDAK ADA BANJIR


(Tulisan ayahku tercinta pada 11 tahun yang lalu. Masih relevan untuk dibaca dan lucunya masih sesuai dengan kondisi saat ini…)

Penduduk Kampung Laut di Segara Anakan tidak pernah mengeluh kampungnya kebanjiran, padahal sehari-hari sepanjang tahun kampungnya berair cukup dalam.

Penduduk sepanjang tepian Sungai Mahakam yang rumahnya mengapung juga tidak pernah mengeluh kebanjiran. MCK adalah sang sungai.

Kira-kira tahun 1986, 38 desa di cekungan Bandung tergenang, dan kira-kira 60.000 jiwa harus diungsikan. Harta senilai Rp 300 juta (nilai kala itu) lenyap ditelan “banjir”, ribuan anak terpaksa tidak dapat masuk sekolah, ribuan orang (selain yang sudah ada di Rumah Sakit) harus dirawat di Puskesmas dan Posko Banjir. Itu banjir dahsyat yang disamakan dengan banjir tahun 1930. Bila siklus 50 tahunan dipercaya, maka banjir dahsyat di Bandung baru akan terjadi seputar tahun 2030. Masih lama ? Apakah yang sekarang kurang dahsyat ?

Menurut sejarahnya, kawasan Bandung memang bekas danau purba, wilayah DKI Jakarta memang kota air, Semarang memang tak cukup tinggi di atas permukaan air sungai (ingat lagu: Semarang kaline banjir ?), Tulungagung sudah dari sononya kebagian luapan air (ingat lagu: Nasib Tulungagung ?).

Jadi bila sekarang tetap “ribut” perkara banjir, rasanya aneh juga. Pasalnya, negeri kincir angin (Belanda) yang berada bermeter-meter di bawah muka air laut (makanya disebut juga “tanah rendah” atau “Nederland”) tidak pernah tergenang air, kecuali bendungannya bocor.

Banjir ? Mengapa “ranca” atau “rawa” atau “situ” atau “tambak” atau “babakan” atau “ledok” dijadikan hunian ? Bila air datang, apakah salah air yang tabiatnya memang mencari tanah rendah ? Boleh saja orang menyebut “apa arti sebuah nama”, tetapi nama-nama tertentu di negeri kita ini memang mengandung makna. Rawamangun, Rawabuaya, Rawakebo, Rawabadak, Rawapening, Rawalo, Rancaekek, Rancakalong, Situbagendit, Situaksan, Situsaeur, Tambakrejo, Tambaksari, Ledokratmakan, Ledokcode, Babakansari, dan masih banyak lagi desa/permukiman dengan nama yang menengarai genangan air. Dapat dipastikan pada jaman doeloe tempat itu pernah tergenang. Orang Betawi berusia di atas 60 tahun pasti tahu bahwa tempo doeloe Rawamangun memang rawa tempat bangau mencari kodok. Sekarang berubah menjadi tempat manusia tinggal dan mencari makan. Ke mana larinya air bila hujan ? Bantaran sungai, selalu berada di tepi sungai pada lahan yang agak datar atau pada lereng/bibir sungai. Pada saat air sungai naik, maka yang dirambah pertama kali tentu saja bantarannya. Apakah itu “banjir” ?

Di awal tahun 2002 “banjir” melanda banyak kota di Indonesia, merenggut ratusan nyawa manusia, menenggelamkan ribuan rumah dan bangunan, menghanyutkan harta benda, yang bila dirupiahkan akan berbilang trilyun. Data belum tercatat lengkap karena setiap hari masih ada masukan data baru, namun kerugian trilyunan rupiah sudah pasti.

Berkaitan dengan banjir, kesalahan kita adalah:

1) Kita salah ditempatkan pada (atau menempati ?) areal rendah yang pada saat tertentu harus menampung kelebihan air;

2) Kita salah tidak mempersiapkan areal rendah yang akan dihuni agar bebas dari kelebihan air yang tidak dikehendaki (banjir). Areal penampung air dijadikan perumahan hampir tanpa persiapan dan upaya penanggulangan.

Bencana nasional atau bukan, kita harus mencari jalan keluar dari kekalahan terhadap air dan berbalik memanfaatkannya. Air yang berlebihan di musim hujan harus bermanfaat di musim kemarau. Berabe bukan bila hujan kita repot dengan banjir, tetapi bila kemarau kita memohon hujan, bahkan harus memanfaatkan teknologi membuat hujan ? Inilah kira-kira siklus daya pikir kita; “bagaimana sekarang dan bagaimana nanti”, sehingga yang tampak selalu tidak siap dan tubruk sana tabrak sini. Apakah belum waktunya kita mengubah pola kerja: sekarang bagaimana, nanti bagaimana ? Artinya, bekerja dengan rencana untuk antisipasi keadaan di masa depan.

Kegemaran kita tuding sana tuding sini mencari kambing hitam seyogyanya diakhiri. Dapat dipastikan ada pasal hukum yang dapat digunakan sebagai ‘pintu butulan’ untuk meloloskan diri. Kita harus mulai berani berpijak pada nurani dilandasi hukum Tuhan dan kebenaran ilmiah yang teruji secara pasti, bukan mengadu pasal  ini lawan pasal itu yang hasilnya tak menentu. Atau bisa dipastikan tak akan ada penyelesaian dengan wawasan menyeluruh.

Mengapa kita selalu bekerja mulai dari nol ? Setiap terjadi suatu peristiwa atau bencana, hampir selalu tidak siap. Seolah-olah tidak pernah ada pengalaman, atau belajar dari pengalaman tempat lain atau bangsa lain. Setiap ada bencana, pihak yang berkompeten belum siap ini belum siap itu, kurang ini kurang itu; padahal bencana yang sama terjadi secara berkala dan hebatnya sudah diketahui sebelumnya.

Kata peribahasa, “nasi sudah menjadi bubur”. Dikembalikan menjadi nasi, tidak mungkin. Dibuang begitu saja, sayang; perut sedang lapar, beras pun sudah tiada. Jadi, yang terbaik adalah berupaya sedemikian rupa agar bubur itu membangkitkan selera dan enak disantap. Mungkin ada sebagian yang harus dibuang ? Apa boleh buat, demi bubur bisa dimakan dan membangkitkan selera.

Kini kita harus mengatasi dan menanggulangi luapan air di musim hujan. Mengembalikan kondisi wilayah ke keadaan semula sudah pasti tidak mungkin,  karena rawa-rawa semula itu hasil proses ratusan bahkan mungkin ribuan tahun, namun masih banyak hal bisa dilakukan. “Korban”, bila itu boleh disebut korban, pasti juga ada. Ratusan dan mungkin ribuan rumah dan bangunan yang belum lama dibangun harus dikorbankan demi menanggulangi banjir. Pilihannya adalah tetap kebanjiran atau bersedia relokasi permukiman. Masyarakat harus diajak “menyadari” kepentingan yang lebih luas, bukan kepentingannya sendiri saja. Kita semua sudah selayaknya memahami hak masyarakat dan kewajiban bermasyarakat, bukan hanya tahu haknya saja. Korbankan lapangan golf (misalnya) untuk membuat waduk penampung air atau rawa buatan (terutama lapangan golf bekas rawa). Bukankah masih banyak lapangan golf yang bisa mereka nikmati, dan para golfmaniac pasti mampu ?

Bandung, Februari 2002

Penulis

Suwardjoko P Warpani

Pemerhati angkutan dan lalu-lintas

Staf Pengajar pada

Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota

SAPPK – Institut Teknologi Bandung

About these ads

4 pemikiran pada “TIDAK ADA BANJIR

    • planolog bejibun ben … omongannya dianggap angin aja karena kurang menguntungkan pengambil keputusan, lain hal nya kalo yang ngomong orang bule, agak didenger… padahal mereka seguru seilmu …

  1. Budaya bergeser, pola berpikir “ekonomi” dan “sempit” sudah memakan korban. Akibat lahan itu “mahal” maka yang dulu tidak disukai jadi “favorit” karena dianggap “murah”. Thanks for sharing my brader, your dad is one of person with beautiful mind. dan dia guru gue…..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s