Mountain Bike dan Motor


Hobi bersepeda dan bermotor sudah melekat sejak saya kecil dulu, entah kenapa saya tertarik dengan kendaraan roda 2 ini, dimana sih asiknya?

Masa kecil saya banyak dihabiskan di kota Bandung, kota yang sejuk dan indah karena dikelilingi pegunungan, seperti layaknya anak-anak kecil lainnya saya dibelikan sepeda oleh orang tua saya.

Kereta angin, begitulah beberapa orang menyebut sepeda, sensasi bersepeda pasti pernah dialami oleh hampir semua orang, rasa bebas dan lepas dapat kita rasakan saat duduk di atas sadle sepeda dan mulai mengayuh pedal, bebas mengendalikan sepeda ke arah mana kita mau.

Lingkungan tempat tinggal saya mendukung bagi anak-anak kecil di kompleks kami untuk bersepeda, saya pun larut dalam suasana menyenangkan itu, entah angin apa yang membawa saya untuk beli sepeda balap dan ikut Klub STP Sangkuriang di Bandung

Teman-teman saya yang masih saya ingat adalah Indro Bulu dan Azhar Aditama, bertiga kami selalu latihan setiap Hari Sabtu dan Minggu. Base camp kami di depan sebuah universitas di Jalan Soekarno_Hatta (ByPass), Bandung. Waktu itu kami masih kelas 5 SD, suasana jalanan Kota Bandung belum sepadat sekarang.

Masa-masa itu yang sedang diminati adalah sepeda balap, kami bertiga selalu janjian dan saling jemput sebelum latihan, setiap sabtu minggu rute saya adalah kanayakan-riau-taman cibeunying selatan-bypass.

Hari-hari latihan kami dihabiskan di jalanan itu, rute Bandung-Sumedang, Bandung-Garut, Bandung-Subang adalah santapan kami setiap minggunya. Di masa itu ada beberapa atlit terkenal, seperti Yusuf Kibar, Bonnie Sukardi, nama-nama lain sudah lupa.

Speed, Power, Balance… kata kunci kami untuk menyusuri jalanan dengan sepeda balap andalan kami, parts yang saya gunakan waktu itu merk Shimano atau Suntour namun sayang sudah lupa jenisnya.

Hobi ini saya jalani bertahun-tahun, sampai saatnya saya SMP, godaan bermotor mulai datang, usia belum mencukupi untuk punya SIM, dasar bangor saya mulai curi-2 pinjam motor sepupu, sebetulnya sudah sejak SD saya dan teman-teman bisa mengendarai motor, namun belum ada keberanian untuk jalan jauh.

Hobi sepeda pun perlahan beralih ke motor, porsi latihan saya agak berkurang, hari-hari saya dihabiskan di bengkel motor, untungnya saat itu saya belum dibelikan motor, jadi hanya bisa nebeng teman.

Naluri petualang mulai timbul, setelah berembuk dengan beberapa teman yang memiliki motor maka kami putuskan untuk jalan-jalan ke pantai utara, pantai pamanukan, hari H pun tiba, base camp kami sebelum berangkat di rumah andi bule, jl aria jipang 7 bandung, lupa saya ada berapa motor yang berangkat, jenis motornya Honda SuperCub 800, astrea 800, Vespa PX… hehehe dasar pada edan

Kami berangkat tanpa bekal arah atau rute yang akan dilalui, pokoknya ke arah utara, jalur lembang pilihannya, perjalanan kali itu benar-benar kami nikmati walau Fajar Kubis hampir ketabrak truk

Usai perjalanan kami tertawa bangga karena sudah bisa jalan jauh versi kami sendiri… tantangan berikutnya bagi kami adalah arah Selatan Kota Bandung, dan tujuan kami kali iu adalah Situ Patenggang… hehehe lumayan seru juga sih, foto-foto setelah sampai tujuan dan kenangan itu masih tersimpan sampai puluhan tahun kemudian.

Bermotor sampai saya mulai masuk kuliah, Binter Merzy 200 cc, Binter AR 125, Suzuki TRS  X1 adalah motor-motor andalan saya waktu itu, sayang X1 saya hanya berumur 3 bulan saja karena lenyap digondol maling.

Hari-hari saya lagi-lagi dihabiskan di bengkel dan tangan selalu belepotan olie, ada saja yang dioprek mulai knalpot, mesin dan lain-lain, bahkan saya dan Indro Bulu sempat nurunin mesin 2 motor Binter AR 125 dalam semalam, mulai jam 17.00 dan selesai jam 8 esok paginya, malam itu begadang berdua tanpa bantuan mekanik, aneh juga saya berdua bisa bongkar motor padahal masih SMA.

Disela-sela kesibukan bongkar pasang motor keseharian saya diisi dengan naik turun gunung, kadang-kadang orang bertanya, ngapain sih capek-capek naik ke puncak gunung trus turun lagi? hehehe…. susah jawabnya kalau belum cobain

Menjelang kuliah saya mulai lagi keracunan sepeda MTB, waktu itu hanya ada sepeda federal,  keinginan memiliki MTB baru tersalurkan saat saya semester 2, Federal warna merah putih jadi andalan saya ke kampus saat itu.

Saat pindah kuliah ke Jakarta saya dapat tunggangan baru, Suzuki RGR 150.. mantabbbb motor ini kenceng banget di masanya, mondar mandir Jakarta – Bandung saya lakukan setiap akhir minggu.

Motor saya jual menjelang PKL dan setelah itu saya hanya bisa pake mobil tanpa ada motor maupun sepeda… hiks….hiksss

Sekitar tahun 2003 saya diracuni Bejo untuk beli MTB, menurut dia di dekat tempat tinggal saya ada track JPG (Jalur Pipa Gas), sepeda Polygon Mecha, Full suspension saya beli supaya bisa main di JPG.

Racun Sepeda memang parah, ada-ada saja kelemahan sepeda yang saya punya, mulai dari group set kurang handal, geometry frame kurang pas dan lain-lain, bolak balik bengkel sepeda jadi hobi sampingan. Sudah banyak frame saya coba, Scott Pro Racing, Specialized S-Works, Specialized Expert Racing, Amoeba Hussar, Norco Fluid 2 dan lain-lain, dari semua frame itu yang geometry framenya paling cocok adalah Norco Fluid 2, masa itu frame All Mountain masih jarang ada, Norco saya serasa paling ganteng kalau udah dipake nanjak.. enteng banget…

Gowes beberapa tahun bersama rekan-rekan JPG asik juga, kami keluar masuk hutan, naik turun gunung, nyebrang sungai dan nyusruk-nyusruk ke tempat ga jelas, sensasi dan kenikmatan masa kecil seperti terulang kembali.

Sekitar tahun 2006 saya perlu motor untuk sekedar mondar mandir, namun entah kenapa bisa nyangkut di salah satu klub motor matik, YMML, hanya sempat 3 kali kopdar motor saya jual ganti Thunder 125… dasarnya emang bikers saya ketemu teman-teman di TC Community (sekarang TCI), bergaul dengan mereka dan sayapun dapat nomor ID 145, juga ga lama di TC karena saya ganti motor yg cc nya lebih gede, Mega Pro.

Lagi-lagi saya nyangkut di HMPC dan tidak sempat lama karena motor saya tukar dengan Scorpio dan sampai hari ini saya masih bergabung dengan teman-teman Mailing List Yamaha Scorpio (MiLYS), ID 709 masih nempel di body motor saya.

Entah angin mana lagi yang lewat di depan saya, sekonyong-konyong saya ingin main MTB lagi setelah beberapa tahun gantung sepeda, setelah coba-coba frame maka KHS Velvet lah yang dianggap geometrynya paling pas dengan tubuh saya, dua hobi ini (MTB dan Motor) masih saya lakoni sampai hari ini.

Saya harus pintar membagi waktu dengan keluarga yang merupakan prioritas nomer 1, untungnya keluarga mengijinkan asalkan saya tetap bisa membagi waktu.

Kenapa motor? persaudaraan di kalangan Bikers sangat kuat, kami biasa hidup di jalanan, di antara pengguna jalan yang lain, dan karena merekalah saya bertambah ilmu mengenai safety riding, teman ada dimana-mana menjadi daya tarik dunia bikers, tidak pernah takut kalau motor mengalami masalah di jalan, tinggal angkat telepon maka mereka akan datang membantu … that’s call brotherhood.

Touring motor saya biasanya melalui jalanan aspal, menyusuri aspal melintasi sejumlah kota meliwati beberapa propinsi, mengayunkan badan seiring dengan irama motor adalah hal mengasyikan dalam dimensi yang berbeda, tarikan gas don decitan ban beradu dengan aspal merupakan keasyikan tersendiri bagi bikers yang senang touring.

Kenapa sepeda? Usia yang semakin bertambah harus diimbangi dengan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh, pilihan sepeda karena dunia ini seakan tidak pernah lekang dimakan waktu, persaudaraan di kalangan goweser sama kentalnya dengan dunia motor, dan beruntungnya di MiLYS ada divisi olahraga, MTB adalah salah satunya.

MTB dan Motor, yang saya rasakan 2 hobi ini saling menunjang, skill bersepeda akan menunjang skill bermotor saya. Hari-hari luang saya manfaatkan dengan bersepeda di JPG, terkadang saya juga bersepeda di daerah pegunungan.

Kenikmatan bersepeda sulit untuk diceritakan kecuali anda mencobanya sendiri.

Ada kenikmatan tersendiri saat hormon adrenalin mulai naik, terutama saat melahap turunan curam, drop off dan track-track “lucu”…

Banyak hal yang saya dapat ketika menyusuri jalanan di tengah rimba, naik turun bukit dan melintasi gunung, lintas gunung disini tidak seperti pecinta alam, jalur yang kami laluipun berbeda dengan jalur pendakian.

Semakin sering bersepeda lintas alam semakin saya merasa dekat dengan alam dan mengagumi ciptaan Allah, ada perasaan kecil dan tidak berdaya saat ada di tengah pepohonan lebat, ada rasa bahagia saat mendengar suara binatang di tengah hutan dan bukit, suara-suara yang tidak bisa saya temui di tengah hiruk pikuk kota.

Ditengah dengusan nafas kami saat menyusuri tanjakan curam dan panjang sering kali terbersit rasa putus asa dan ingin pulang, namun pemandangan indah sepanjang jalan seakan menjadi obat penawar rasa lelah kami.

Istirahat adalah kewajiban kami saat menggowes, kami selalu berhenti di tempat yang biasanya digunakan orang untuk berteduh dan melepas rasa lelah, sedih rasanya melihat lingkungan yang begitu indah dikotori oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sampah dan coretan-coretan tidak bermutu seringkali saya jumpai di tempat istirahat itu.

Banyak orang yang mengaku dirinya pecinta alam, miris juga mendengar pengakuan mereka, saya pribadi hanya berani berkata bahwa saya baru sanggup sampai level penikmat alam dan sedang berusaha menjadi pencinta alam.

Apa bedanya penikmat alam dan pencinta alam? Sederhana saja, penikmat alam selalu menjadi menikmati suasana alam di sekitar tempat yang dilalui, sedangkan level pecinta alam adalah orang yang selalu menjaga kelestarian alam dengan benar-benar menjaga alam di sekitarnya.

Bersepeda menikmati alam…. itu dulu yang saya lakukan dan tentunya saya juga selalu menjaga keaslian alam dan menjaga kelestariannya, banyak hal bisa kita lakukan untuk menikmati alam tanpa merusaknya.

Hembusan angin saat menyusuri turunan dan dengusan nafas saat menikmati tanjakan seakan menghilangkan beban pikiran dan melepas semua beban…. segar dan ringan… itu yang selalu goweser rasakan saat sanggup menyelesaikan tantangan di setiap track.

Lingkungan pedesaan yang kami lalui dengan keragaman dan keramahan penduduknya seakan mengajari saya tentang arti kemanusiaan.

Tanjakan curam dan panjang seolah tanpa akhir mengajarkan saya tentang arti kesabaran.

Turunan curam, licin dan berliku dan keselamatan kami hanya bergantung pada sepeda dan skill yang kami punya banyak mengajarkan saya tentang keihlasan

Kesulitan dan hambatan di perjalanan seolah bisikan di hati saya tentang pentingnya persahabatan.

Hujan dan panas yang selalu menjadi teman baik kami di perjalanan selalu mengingakan saya bahwa “Alam Adalah Kawan Bukan Lawan”

Selamat bersepeda dan bermotor semoga anda bisa menikmati alam dan berkawan dengan alam untuk menuju tingkatan Pecinta Alam sejati…

(foto-2 nya nyusul ya, ntar saya tambahin)

2 thoughts on “Mountain Bike dan Motor”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s