Dengkul Ngepul Demi Bandrek Susu


Jalan Dago, Bandung pagi ini cerah dan sejuk, beberapa sepeda sudah terlihat melintas menyusuri tanjakan dago, sementara saya dan arie masih menyiapkan sepeda.

Ini kali pertama arie gowes ke Warung Bandrek (Warban), dia penasaran dengan bandrek susu yang  berulang kali saya ceritakan… dan yang membuat dia semakin penasaran adalah tanjakannya, sudah beberapa hari ini saya selalu berolahraga sepeda menikmati tanjakan Warban,  dan entah kenapa tanjakan itu membuat saya penasaran untuk selalu mengulangi tanjakan ini setiap pagi.

KHS Velvet dan Pivot Firebird mulai menyusuri tanjakan dago pada jam 06.15, perlahan kami mengayuh sepeda untuk melakukan pemanasan, 500 meter pertama jalanan nanjak menuju terminal dago, udara pagi yang sejuk bercampur asap di terminal membuat saya mengayuh lebih cepat untuk menghindari polusi.

Menyusuri jalanan aspal terus naik menuju Warban, sejak awal gowes saya selalu menjaga cadence supaya tetap stabil, semakin lama tanjakan semakin curam namun semakin sedikit kendaraan bermotor melintas jalanan ini, arie masih mengikuti saya dengan nafas tersengal -sengal… hehehe dia sedang adaptasi dengan ketinggian

Tak lama kemudian kami melihat ada warung di pertigaan, berhenti sebentar karena arie lupa membawa botol minum, beberapa teguk air membasahi tenggorokan dirasakan sudah cukup sebagai penghibur lelah kami.

Kembali mengayuh menuju Warban, kali ini kami mulai masuk jalanan aspal yang kurang mulus, sajian tanjakan terlihat jelas di depan mata, deru ban sepeda kami kalah keras oleh dengusan nafas, sepasang lubang hidung berusaha keras menyedot oksigen untuk supply ke paru-paru.

Segala cara kami lakukan untuk tetap bisa mengayuh di tanjakan ini, berdiri di atas pedal, jalanan menyilang untuk mengurangi elevasi, memindahkan posisi drive train ke posisi paling ringan kami lakukan, tak jauh di depan terlihat ada warung minuman, sambil menunggu arie sampai saya menepi sekalian rehat sejenak

tak lama menanti, arie mulai terlihat di tanjakan ini, nafasnya mulai tersengal-sengal dan kayuhannya semakin melemah, sesampainya di warung dia hanya bisa duduk kemudian berbagai gaya dia lakukan untuk menghilangkan lelah… hihihi, duduk, terlentang, membungkuk sambil menghirup dalam-dalam oksigen

Beberapa menit kami duduk untuk istirahat, padahal tujuan kami hanya tinggal beberapa kayuh lagi ke atas, tanjakan tanpa harapan sudah menanti di depan, setelah nafas normal kami bersiap lagi untuk mengayuh sepeda ke atas, namun bapak-bapak tua yang melintas di depan kami membuat kami turun lagi dari sepeda, melongo kagum melihat bapak tua itu bersama beberapa temannya terlihat ceria menyusuri tanjakan tanpa harapan ini… hemmm duluan gih sana..

Pohon semakin lebat memayungi jalanan yang kami lalui, tanjakan terjal namun teduh ini sangat mengasyikan, sambil nanjak terpikir “ngapain juga ya demi segelas bandrek susu panas saya rela capek-capek nanjak pake sepeda?’

Tanjakan tanpa harapan ini membuat dengkul kami ngepul, dengkul semakin panas dan  gemetar, namun demi segelas bandrek susu kami tetap mengayuh, ujung tanjakan tertinggi mulai terlihat, semakin semangat saya gowes… breakkk and sprinttttt … wusss wusss wussss sepeda melaju cepat di tanjakan ini.

akhirnya ketemu sedikit turunan menuju warban… akhirrrnyaaaa, kata pertama setelah parkir sepeda adalah “Bu.. bandrek susu 2 gelas ya”

Bandek susu ini memang khas rasanya, apalagi menikmatinya setelah nanjak tanpa henti, gorengan khas bandung, lontong dan bandrek berebut masuk perut, udara pagi itu sangat sejuk dan indah, kabut masih terlihat disekitar warban

Hobi bersepeda ini selain menyehatkan badan juga bisa menambah teman, beberapa pesepeda asal Bandung menyapa kami dengan ramah dan kami mulai terlibat pembicaraan seru seputar sepeda, tak terasa waktu terus bergulir, sementara saya harus meeting jam 9.30 di hotel, bergegas saya menyiapkan sepeda untuk kembali ke hotel.

Rute pulang saya pilih yang agak sedikit berbeda, tidak melalui jalanan tadi tapi mencoba masuk jalanan kecil menuju THR Pakar, masuk single track di samping tempat parkir sepeda membawa kami masuk ke perumahan penduduk, jalanan benar-benar hanya cukup untuk 1 sepeda, beberapa kali kami turun untuk menuntun sepeda saat papasan dengan orang

tidak jauh melintasi perumahan penduduk kami sudah dihadapkan ke beberapa turunan tanah dan banyak akar melintang, harus extra hati-hati mengendalikan sepeda supaya tidak tergelincir

Beberapa saat menikmati turunan curam dan licin ini sampai akhirnya saya melihat THR Pakar di depan, jalanan tetap single track, berbagi dengan pejalan kaki yang sedang wisata di THR pakar, menyusuri jalan sampai tiba di Gua Belanda

Dulu semasa kecil saya sering main ketempat ini bersama teman-teman, sekarang setelah puluhan tahun saya bisa sampai ditempat main bersama teman-teman kecil, tentunya ingatan masa kecil saya sempat terbayang di area ini.

Matahari semakin tinggi, memaksa saya segera membuyarkan lamunan tentang masa kecil dan bergegas mengayuh sepeda, tempat ini teduh, sejuk, keringat yang keluar pagi ini seakan sirna oleh udara sejuk di kawasan ini

jalan raya di depan mata pertanda tidak lama lagi saya sampai ke hotel untuk meeting, badan terasa lebih segar setelah menikmati bandrek susu walau dengkul harus ngepul di tanjakan menuju Warban.

Jam menunjukan pukul 8.55, masih ada cukup waktu untuk mandi dan menyiapkan perkakas meeting pagi ini.. Bandrek susu dan tanjakan sarapan saya setiap pagi sebelum meeting…

File GPS bisa di download di :

http://www.everytrail.com/my_trips.php?user_id=183408

Salam Bandrek

9 thoughts on “Dengkul Ngepul Demi Bandrek Susu”

  1. untuk ngejaga cadance harus tetep stabil, sudah perlu cleat yah? huhuhu..

    saya emg ga suka tanjakan, cuma pengeeeen nyobaaaa… kapan yah?? yukk yukkk!!

  2. nandjak bukan hal yang saya sukai, tapi tidak ada bersepeda tanpa tandjakan. tanggal 02 juni 2011 kemarin saya ke bandung gowess dari parung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s