Korupsi Bahasa Indonesia


Berikut ini adalah tulisan ayah saya, Suwardjoko Warpani tentang Bahasa Indonesia, beliau sering mengisi waktu luangnya dengan mengamati pengunaan Bahasa Indonesia dan menuliskannya secara singkat, ini adalah salah satu tulisannya. Selain tulisan ini saya juga akan menambahkan beberapa tulisan ayah saya tentang Bahasa Indonesia.

KORUPSI  BAHASA  INDONESIA

S . P . W a r p a n i

Bahasa memang berkembang, namun harus tetap taat azas. Bila tidak, maka akan tejadi kemerosotan bahasa itu karena maknanya dapat menjadi rancu atau kurang jelas.

Tidak jarang penutur Bahasa Indonesia  dihinggapi rasa terlalu hormat pada seseorang, terutama kepada pejabat, takut kualat bila harus menyebutnya. Lantas yang dilakukannya adalah “korupsi bahasa”.

Karena “takut kualat” atau takut dianggap tidak sopan, banyak penutur Bahasa Indonesia, bahkan juga dalam tulisan, mengatakan atau menuliskan kalimat sebagai berikut:

  1. Terima kasih atas perhatian.          –>perhatian siapa?
  2. Terima kasih atas perhatiannya.  –> ‘nya’, mengapa kepada yang tak ada di situ ?
  3. Waktu dan tempat kami silakan.  –> yang ‘disilakan’ adalah waktu dan tempat; selain itu, apakah waktu dan tempat dapat bersila ?

Kalimat 1

Tak jelas ditujukan kepada siapa karena sebenarnya kalimat tersebut belum selesai. Meskipun pendengar/pembaca pasti tahun kepada siapa terima kasih itu ditujukan apabila mendengar/membaca sejak awal.

Yang benar:

  1. Terima kasih atas perhatian Pimpinan.

 

Kalimat 2

Bukan ‘korupsi’ melainkan mengalihkan sasaran pembicaraan. Semula pembicaraan ditujukan kepada orang kedua (misalnya Bp. Achmad yang sangat dihormati), namun saat akan mengucapkan terima kasih, orang yang kita ajak bicara justru dijadikan orang ketiga. Takut kualat apabila menyebut Bapak Achmad, maka pembicaraan –tanpa permisi– dialihkan kepada orang lain yang kita beri tahu bahwa kita berterima kasih kepada Bapak Achmad. Bapak Achmad kita tinggalkan begitu saja. Sopankah ini ?

Yang benar:

  1. Terima kasih atas perhatian Bapak Achmad yang sangat kami hormati.

 

Kalimat 3

Mengandung dua kesalahan yakni: a. menyilakan barang mati, dan b. barang itu ‘didudukkan bersila’. Apa bisa ? Tentu saja tidak. Waktu dan tempat tidak mungkin disilahkan apalagi didudukkan bersila.

Yang benar:

  1. Ibu Ketua yang terhormat kami silahkan menyampaikan sambutan pembukaan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s