MENJUNJUNG TINGGI BAHASA NASIONAL, BAHASA INDONESIA


(Berikut ini adalah tulisan ayah saya Suwardjoko P. Warpani yang saya terbitkan ulang, selanjutnya akan ada lagi beberapa tulisan / opini beliau)


Enampuluh tahun Bangsa Indonesia sudah merdeka, namun baru merdeka sebagai suatu negara yang mempunyai nama dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mempunyai pemerintahan sendiri; sedangkan di berbagai aspek kehidupan dan penghidupan masih menyandang tanda tanya besar apakah kita sudah merdeka. Salah satunya adalah di bidang kebahasaan; Bahasa Indonesia Belum Merdeka.

Lebih dari 70 tahun yang silam, kita sudah bersumpah bahwa bahasa nasional kita adalah Bahasa Indonesia, namun bangsa yang sudah 60 tahun merdeka ini masih juga belum memiliki kepercayaan diri untuk menjunjung tinggi bahasa nasional, Bahasa Indonesia. sebagaimana sumpahnya. Istilah atau kata-kata yang sudah sangat dipahami dalam Bahasa Indonesia, banyak yang diabaikan dan para penutur serta penulis lebih percaya kepada bahasa asing (terutama Inggris), padahal diutarakan di Indonesia, ditujukan kepada masyarakat Indonesia, tentang masalah Indonesia, oleh orang Indonesia. Kita lebih bangga menyelipkan kosa kata bahasa asing (Inggris) meskipun tidak jarang terasa janggal.

Penulis tidak anti pada penyerapan bahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia, namun menyerap seharusnya bukan asal menyerap. Untuk apa menyerap bila padanannya sudah ada, apalagi sudah amat dipahami ? Bila harus menyerap, maka kata serapan harus luluh dalam aturan Bahasa Indonesia. Tak satu pun bahasa di dunia ini yang 100% murni.

Perhatikanlah Bahasa Arab, Cina, Jepang, Rusia sampai pada hurufnya pun amat dikenal oleh rakyatnya, bangsanya. Di negara lain pun, dengan penuh percaya diri huruf-hurufnya menghiasi tempat kegiatan mereka tanpa peduli bangsa lain tak tahu dan tak paham. Sebaliknya Bangsa Indonesia “takut” bangsa lain tidak tahu bila kita –walaupun di Indonesia– mengutarakannya dalam Bahasa Indonesia. Berbahasa pun kita belum merdeka, bahkan rasanya lebih bangga “dijajah”.

Acara pembinaan Bahasa Indonesia di TV belum cukup menarik bagi sponsor berduit, karena itu lantas tidak menarik bagi pengelola siaran TV. Simak saja berapa setasiun TV yang mau mengelola pembinaan Bahasa Indonesia

Istilah Baku

Beberapa kemungknan mengapa kita lebih lebih suka menggunakan Bahasa Inggris, antara lain: takut disebut ‘tidak intelek’, tidak tahu atau ‘tidak mau tahu’ Bahasa Indonesia-nya, malas membuka kamus mencari padanannya dalam Bahasa Indonesia,tidak yakin bahwa orang lain akan memahami istilah Bahasa Indonesia, artinya belum siap menjunjung tinggi Bahasa Indonesia.

Amat sering kita membaca di media massa dan mendengar para penyiar TV menggunakan istilah bahasa asing padahal Bahasa Indonesia-nya sudah ada dan amat dikenal. Misalnya alam upaya memerangi pungli, terbaca slogan Say no to pungli. atau ungkapan: “Para mahasiswa sedang melakukan traffic counting dalam rangka tugas perkuliahannya”. “Para anggota DPR sedang shopping di LN”. “Open space di kota Anu, kondisi existingnya sudah berubah menjadi outlet”. “Ini makanan enak, siapa cateringnya ?” “Anggaran belanja dimark up demi dst, dst, dst”.

Katanya lebih sopan menyebut toilet alih-alih jamban atau peturasan. Mengapa kita lebih sering membaca kata diasumsi-kan padahal kata ‘dianggap’ sudah amat kita pahami ? Selain itu, kaidah Bahasa Indonesia ditelikung; kata “dianggapkan” jelas terasa ganjil dalam Bahasa Indonesia. Bukankah semua kata asing di atas sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia dan pasti sudah amat dipahami maknanya oleh masyarakat ?

Sudah lebih dari tujuhpuluh tahun kita bersumpah “menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Sudah lebih dari empatpuluh tahun ejaan yang disempurnakan diberlakukan, namun kita masih belum mampu (saya yakin “tidak mau”, acuh tak acuh) membedakan penulisan kata depan ‘di’ dan ‘ke’ dengan awalan ‘di’ dan ‘ke’; tidak hanya di kalangan masyarakat awam, bahkan di kalangan ilmuwan dan pendidik sejak SD sampai PT.

Sebagian pakar Bahasa Indonesia terlalu miskin untuk tulisan ilmiah karena banyak istilah asing yang tidak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia; kurang tepat makna, kurang ini, kurang itu. Suatu alasan yang menunjukkan bahwa:

(1) Yang bersangkutan malas membuka kamus dan ingin gampangnya saja.

(2) Merasa lebih “ilmiah” menyelipkan istilah atau kosa kata bahasa asing.

(3) Masa bodoh akan makna Sumpah Pemuda.

Akibatnya, tulisannya berbahasa gado-gado yang tak sedap disantap.

Semua bahasa, termasuk Bahasa Indonesia tidak tabu terhadap penyerapan bahasa asing, namun masing-masing bahasa memiliki kaidah baku (aturan) yang wajib dituruti sehingga kata serapan itu bisa luluh dalam bahasa penyerap. Kita memiliki Lembaga Bahasa yang tugasnya antara lain mengembangkan Bahasa Indonesia, tetapi tampaknya kalah dengan para sutradara sinetron yang lebih berhasil menyebarluaskan bahasa gaul.

Selain itu, amat banyak di antara kita yang merasa terlalu ‘tahu’ ber-Bahasa Indonesia sehingga meremehkannya, dan berakibat salah. Barangkali tidak tahu atau ‘tidak mau’ berupaya memahami makna yang benar, beberapa salah ungkap pun sering terjadi di media cetak maupun tv, misalnya:

(1) “Sudah bukan rahasia umum”, padahal seharusnya sudah menjadi rahasia umum;

(2) Presiden berpidato “dengan tanpa” teks, padahal seharusnya: Presiden berpidatotanpa teks.

(3) “Pasca” ( c dari calon) dilafalkan paska (k dari kadal), karena mengira kata itu berasal dari bahasa asing.

Tampaknya sepele dan lantas disepelekan, karena merasa paham, namun tak disadari telah mengubah makna sebenarnya.

Dalam ber-Bahasa Indonesia di Indonesia, kita masih menampilkan diri sebagai bangsa yang kurang menghargai bahasanya. Kita berbicara di Indonesia, tentangIndonesia, kepada orang Indoneia, pada media Indonesia, mengapa kita tidak percaya bahwa dengan kosa kata Bahasa Indonesia pesan kita pasti akan sampai dan dipahami oleh masyarakat ?

Bangsa Arab, Cina, Jepang, Rusia tidak hanya menggunakan bahasanya, bahkan hurufnya pun amat dikenal oleh rakyatnya tanpa peduli bangsa lain tahu atau tidak. Di negara lain pun bangsa ini percaya diri memampangkan aksara nasionalnya seolah-olah mereka hendak menyatakan: “inilah Arab”, “inilah Cina”, “inilah Jepang”, “inilah Rusia”.  Sebaliknya kita “malu” atau “takut” bangsa lain tidak tahu bila kita mengatakannya dalam Bahasa Indonesia; mental budak jajahan (inlander) masih lengket melekat pada mental bangsa kita.

Kebanggaan ber-Bahasa Indonesia

Bagaimana cara menumbuhkan agar kita menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia ? Kuncinya  ada pada para pemimpin karena karakter orang Indonesia adalah bergantung pada ‘panutan’. Pemimpin bilang ‘ganyang’ maka populerlah kata ganyang, pemimpin bilang ‘anem’ maka semua pejabat bilang anem untuk menyatakan bilangan enam; pemimpin menyatakan bahwa tourisme adalah pariwisata, maka populerlah kata pariwisata; maka ketika pemimpin tidak percaya kepada Bahasa Indonesia, maka masyarakat pun ikut-ikutan tidak percaya kepada kemampuan Bahasa Indonesia.

Bahasa memang dinamis, tumbuh, berkembang, dan menyerap istilah dan kata dari bahasa lain; itu wajar, namun penyerapan ke dalam Bahasa Indonesia sudah keterlaluan dan sangat melanggar kaidah kebahasaan yang sudah ada. Termasuk penghalusan ungkapan yang akibatnya mengacaubalaukan makna.

Untuk mendapat kesempatan belajar di luar negeri (misalnya USA), para calon harus lulus TOEFEL dengan nilai minimum 500. Bagaimana bila para calon mahasiswa di Indonesia harus diuji kemampuannya ber-Bahasa Indonesia. lisan dan tulisan ? Penulis menduga kira-kira lebih dari 50% bakal rontok.

Sudah lebih dari setengah abad kita merdeka, namun Bahasa Indonesia belum dapat kita banggakan. Kita (kebanyakan) belum bangga ber-Bahasa Indonesia dengan dan benar, karena:

ú Sumpah Pemuda hanya menjadi hiasan bibir, bangsa Indonesia tidak menghormati atau menjunjung tinggi bahasanya sendiri.

ú Kita malas mencari padanan kata, bahkan yang sudah populer sekali pun, misalnya: anggapan, keluar/ masuk, apalagi yang belum populer meskipun pasti mudah dipahami seperti: peringkat, pesohor.

ú Hanya beberapa media massa yang memiliki rubrik atau acara khusus Bahasa Indonesia.

Nama Lembaga

Pemerintah harus menjadi pelopor penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi yang terjadi sangat merisaukan. Seharusnya, tidak satu pun lembaga resmi yang menggunakan istilah selain istilah Bahasa Indonesia. Bila ingin menggunakan Bahasa Sanskerta (akar Bahasa Nusantara) hendaknya ditulis dengan benar; tidak seperti grha (gedung) yang ditulis graha, atau rontal (daun tal) yang ditulislontar (atau daun lontar).

Mengapa masih banyak lembaga resmi menggunakan istilah seperti: meeting, trainning centre, exit, operation room, out/ine, kondisi existing dalam kegiatan maupun di ruang-ruang kantor ? Dengan sangat mudah kita dapat temukan padanan kata-kata itu dalam Bahasa Indonesia. Mengapa Dept. Diknas menggunakan istilah resmi visitasi sekedar mencari jalan pintas untuk menerjemahkan visitation yang juga sangat mudah ditemukan padanannya ? Di mana “Sumpah Pemuda” kita simpan ? Atau sudah kita lupakan ?

 

Bandung, akhir Sept. 2006

menyongsong Bulan Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s