Nasib Lalu Lintas Sekitar Gedong Sate Bandung


Tidak perlu teori canggih, sekarang sirkulasi lalin di sekitar Gedong Sate sudah “sakit”, artinya tidak lancar, apalagi pada akhir minggu dan bila ada kegiatan di lapangan Gasibu (boleh dibilang, inilah alun-alun Kota Bandung kini). Keadaan lalu-lintas tidak sebagaimana semua orang berharap, lancar tidak semrawut. Pembangunan Gedung DPRD sudah dimulai, tetapi rekayasa jaringan jalan di sekitarnya masih pada tahap wacana, entah kapan terwujud. Sangat mudah diprediksi bahwa akan terjadi kesemrawutan lalu-lintas luar biasa di sekitar Gedong Sate.

sumber foto: http://www.scribd.com/doc/3061212/Gedung-Sate-Bandung

Masyarakat memang “kaget”, karena wacana gedung DPRD yang lama tenggelam tiba-tiba sudah menjadi tindakan nyata “pembangunan dimulai”. Ada kesan, pemerintah bersama DPRD bekerja (meminjam istilah perang) di bawah tanah; gelap, tersembunyi, diam-diam.. Rakyat dihadapkan pada situasi “terpojok”. Bila masyarakat kecewa dan marah, sangat mudah dipahami karena para wakil bertindak lebih kuasa dari yang diwakilinya, dan diam-diam.

Dampak lalu-lintas

Anggota DPRD Jawa Barat 50 orang, sudah pasti menggunakan ranmor roda 4. Jumlah karyawan, katakanlah 200 orang, diperkirakan 100 orang menggunakan ranmor roda 4, dan sisanya menggunakan sepeda motor. Tamu yang masuk-keluar DPRD tak akan kurang dari 100 orang per hari yang tentu tidak berjalan kaki. Atinya akan ada lebih dari 300 kendaran yang berkepentingan dengan DPRD mondar-mandir di sekitar Gasibu. Ini perkiraan sangat kasar dan pesimis.

Kendaraan-kendaraan yang lepas dari pintu tol Pasteur dan perempatan Jl.Suria Sumatri melaju cepat dan terhampat pada ujung jalan layang Pasupati di betulan lapangan Gasibu. Di sini ada pertemuan jalan sebidang yang lumayan padat lalu-lintas. Kawasan ini adalah persilangan lalu-lintas utara-selatan dan barat-timur Kota Bandung yang sangat padat. Jl. Ir H. Juanda dan Jl. Martadinata sudah berubah fungsi menjadi pembangkit lalu-lintas yang amat kuat. Alternatif lintasan jalan utara-selatan dan barat-timur nyaris tak berarti; tidak setara dengan fungsi dan kapasitas Jl. Martadinata dan Jl. Juanda. Jangan dilupakan, jumlah ranmor bertambah dengan pesat, sementara angkutan umum di Bandung masih jauh dari memadai, sehingga kecenderungan menggunakan kendaraan pribadi sulit dibendung. Lantas bagaimana nasib lalu-lintas di sekitar Gedung Sate ?

Kota Bandung sudah diperluas dari 8.900 ha menjadi 17.000 ha. Mengapa pembangunan Kota Bandung masih saja terkonsentraswi di area/kota lama yang 8.900 Ha ?  Contohnya, BSM, Paskal Mall, Parys van Java, BTC, dan Istana Plaza. Sementara itu pembangunan prasarana jalan di kawasan kota lama sudah sangat sulit dilakukan tanpa biaya tinggi. Jadi kemacetan lalu-lintas di Kota Bandung adalah konsekuensi logis dari kebijakan pembangunan kota tanpa andala (analisis dampak lalu-lintas). Bahkan IMB tampak jelas tanpa memperhitungkan dampak lalu-lintas yang ditimbulkannya yang sudah pasti dengan sangat mudah diketahui. Simak saja sirkuladi lalu-lintas di perempatan Parikaliki-Pajajaran, dan Siliwangi-Juanda. IMB tanpa memperhitungkan bahwa bangunan di sudut perempatan tersebut di atas adalah pembangkit lalu-lintas yang cukup besar.

Nurani masyarakat/rakyat

Keanggunan Gedong Sate patut dilestarikan. Rencana tata letak Gedong Sate dan sekitarnya (tempo doeloe) yang boleh dibilang cukup berpandangan luas dan jauh ke depan telah “dirusak” oleh para penentu kebijakan masa kini. Keanggunan Gedong Sate terancam surut, padahal bukan hanya bangunannya saja yang memiliki nilai kesejarahan, lingkungannya pun seharusnya dijaga. Pandangan bahwa itu adalah “warisan penjajah” adalah pandangan yang keliru. Gedong Sate dan lingkungan sekitarnya adalah harta rakyat Pasundan yang tak sanggup dibawa “mudik” oleh Belanda; berbeda halnya dengan naskah kuna, kujang, dan artefak.

Sudah terlalu banyak jejak-jejak sejarah Kota Bandung yang “dimusnahkan” atas nama finansial tidak produktif. Teriakan para pegiat Bandung Heritage seolah-olah hilang tertiup angin lembah Bandung. Kini, muncul bangunan baru yang tak diketahui masyarakat seperti apa desainnya, bagaimana tata-letak bangunan di sekitar Gedong Sate. Bangunan gedung DPRD sudah terlanjur ada di sisi depan kiri Gedong Sate; sudah terlanjur meskipun desainnya yang sepertinya ingin menyelaras dengan desain Gedong Sate, tampaknya tak berhasil. Meruntuhkannya ? Tentu suatu tindakan mubazir.

Yang buta dan tuli

Punya mata tak dapat melihat, punya kuping tak dapat mendengar (kata Bimbo dalam nyanyiannya). Inilah kesimpulan masyarakat menyimak apa yang terjadi di depan mata. Adalah hak masyarakat untuk curiga, karena amat dekat dengan peristiwa besar yakni pilkada dan pemilu. Terlalu terang benderang bahwa partai-patai tentu sedang menggalang dana. Iuran anggota parti adalah sesuatu yang mustahil, apalagi fakta sehari-hari terpampang bahwa ada bagi-bagi uang kepada pengurus partai yang jumlahnya fantastis. Jadi, sudah pasti sumber iuran datang dari sebagian anggota partai yang mengantongi kemungkinan manangguk dana dari kas negara.

Tak perlu bukti tertulis karena tak ada koruptor memberi kwitansi terima uang, namun semua sudah menjadi rahasia umum. Terlalu jelas, namun tak tampak oleh hukum di negeri ini. Lambangnya saja putri yang matanya dibebat kain. Sayang maknanya diplesetkan.

 tulisan ini pernah dimuat di:  Bandung Ekapres  07.03.2012

Bandung 22.02.2012

Penulis

SUWARDJOKO WARPANI

Pemerhati angkutan dan lalu-lintas

Staf Pengajar padaProdi Perencanaan Wilayah dan Kota

SAPPK – Institut Teknologi Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s