DI MANA? Sudah tahu kok bertanya?


“Di mana” (amat banyak yang masih menuliskannya “dimana”), dalam bahasa Indonesia adalah ungkapan untuk menanyakan tempat. Bila kita simak berbagai tulisan (makalah dan di media cetak) serta ungkapan para pemandu acara, bertebaran kata “di mana” yang tidak tepat atau salah tempat atau tidak diperlukan. Bila kita cermati, jelas sekali bahwa kata itu adalah terjemahan dari kata “where” dalam bahasa Inggris yang tidak selalu bertanya tempat. Kata  “where” (yang bukan menanyakan tempat) dapat dihilangkan/diabaikan saja atau diterjemahkan/dipadankan dengan salah satu dari kata berikut ini: yangtempat,  dan, kala/ketika/saat/waktu, dengan, keterangan.

Sumber Gambar: http://camilan.sepocikopi.com

Patuh pada kaidah bahasa

Bahasa Indonesia mengenal kelompok kata sambung yang sering kali tidak kita manfaatkan dengan baik. Kita memiliki kata sambung antara lain: yang, dan, dengan yang kurang dimanfaatkan dengan baik sebagai padanan where dalam kontek kalimat. Kita lebih senang mengambil jalan mudah menerjemahkan where dengan di mana. Simak juga misalnya kebiasaan banyak kalangan yang gemar menggunakan akhiran –isasi dan –ing yang tidak dikenal dalam kaidah Bahasa Indonesia. Misalnya: turinisasi (penanaman pohon turi), koding (pengodean), Mengapa pula kalangan cendekiawan tak mau menerjemahkan kata existing, tetapi dengan ‘kejam’ memerkosa menjadi eksisting ? Padahal dengan sangat mudah bisa ditemukan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Kenyataan ini menunjuk pada ketidak-patuhan kita pada kaidah Bahasa Indonesia, tetapi justru tunduk pada idiom Bahasa Inggris. Sangat memprihatinkan karena hal ini dilakukan oleh kalangan yang justru kita harapkan menjadi dan bertindak sebagai garda terdepan Bahasa Indonesia.

 Sudah tahu, mengapa bertanya ?

            Banyak ungkapan yang menempatkan kata “di mana” bisa dijawab (dengan gaya seloroh): “sudah tahu kok bertanya”. Berikut ini adalah contohnya: 1)      “—- diperiksa di RS. Y dimana beliau dirawat secara intensif”. 2)      “—-  yang terletak berhadapan dengan balairung  Seiden  di mana  singgasana Takamimura dan Michodae berada —-“. 3)      Inilah suasana di G, di mana masyarakat —-. Kata  “di  mana”  di  atas  seharusnya diganti dengan “tempat”, sehingga kalimatnya menjadi, misalnya: “—-  diperiksa di R.S. Y tempat beliau dirawat secara intensif”; bukannya bertanya di mana, karena sudah tahu berada di situ/sana.

 Terjemahan where yang tidak tepat

4)      “—- tampak kesibukan luar biasa, di mana terlihat —-“ 5)      “—- akan dilakukan upacara militer, di mana akan dipimpin oleh —-“ 6)      —- kawasan industri yang dibentuk lebih luas  dari  3500 Ha.  Di mana sisanya dipergunakan bagi —“ Kata “di mana” di atas seharusnya tidak ada atau diganti dengan “dan”, sehingga kalimatnya menjadi: “—- luas dari 3500 Ha. Sisanya —-“  atau “—- luas dari 3500 Ha, dan sisanya —-“ Penggunaan kata “di mana” yang juga tidak tepat bisa disimak dari contoh kalimat berikut: 7)      “—- dibangun sangat indah, di mana budaya Jawa —- “. 8)      “Apakah ada jam tertentu, di mana pengunjung diizinkan masuk ?“ 9)      “Y = bX + c, di mana X = peubah bebas”. Jelas sekali bahwa penggunaan kata “di mana” dalam contoh di atas sangat kental dipengaruhi kata where, padahal dalam contoh 8) misalnya, jelas menanyakan saat tetapi mengapa bertanya “di mana” bukannya “kapan” ? Pada contoh 9), yang dimaksud dengan “di mana” adalah “keterangan”. Sejalan dengan kata “di mana” adalah penggunaan kata “yang mana”, misalnya: “Saya tak mungkin menjadi saksi atas peritiwa itu yang mana saya tidak mengetahuinya”. Padahal kata “mana” sama sekali tak ada fungsinya; kalimat tersebut seharusnya berbunyi: “Saya tak mungkin menjadi saksi atas peritiwa itu yang saya tidak mengetahuinya”.

Perkembangan bahasa

Setiap bahasa memiliki kaidah baku di samping terbuka dan membuka peluang masuknya pengaruh bahasa lain. Masalahnya adalah bangsa itu patuh atau acuh terhadap kaidah bahasanya. Bila patuh maka bahasa bangsa itu akan kukuh dan berkembang menjadi bahasa utuh, tetapi bila acuh maka bahasa itu akan runtuh. Menyerap kata dari bahasa lain boleh dan sah-sah saja, namun kata serapan harus tetap tunduk pada kaidah Bahasa Indonesia. Jangan asal menyerap atau menerjemahkan, apalagi secara kata per kata bukan dalam kontek kalimat, hanya karena ‘malas’ mencari padanannya dalam Bahasa Indonesia. *Tulisan ini pernah dimuat di INTISARI, Juli 2009

 Bandung, 06 04 08

Penulis

Suwardjoko P Warpani

Pemerhati Bahasa Indonesia

3 thoughts on “DI MANA? Sudah tahu kok bertanya?”

  1. hahaha iya sih …
    kebanyakan orang pasti lebih sering menggunakan kata dimana..
    ya gituu karena udah jadi kebiasaan >___<
    baru ngeh pas ada artikel ini

    1. hehehe iya kan? mahasiswa bahkan dosen masih seneng pake kata itu tanpa tahu maknanya, bajkan presenter TV seperti sudah membiasakan menggunakan kata itu. Semoga kamu tidak latah menggunakan kata-2 itu seperti mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s