GELAR KESARJANAAN


Terbaca [mudah-mudahan tidak salah ‘baca’] kerisauan hati Mang H. Us Tiarsa, barangkali juga karena kerisauan hati penulis, suatu saat kita belajar Cianjuran bukan di STSI Bandung atau di Cianjur, melainkan di Kalifornia [PR 20 Maret 2007]. Memang tidak mustahil, dan sudah ada beberapa bukti. Sejumlah Doktor Bahasa Indonesia, Doktor Tari Jawa, Doktor Bahasa Jawa mendapatkan gelar puncak itu di luar negeri; tidak di Indonesia.

Sumber Gambar: http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/03/14/baru-lulus-sarjana-minimal-gaji-22-jutabulan/

Mengapa ? Karena kita ‘silau’ oleh gelar, atau kasarnya ‘gila gelar’, bukan kemampuan seseorang. MM yang diperoleh melalui kuliah setiap Sabtu malam (Malam Minggu) selama beberapa bulan, dan Doktor yang diperoleh melalui ketebalan dompet dengan desertasi entah bikinan siapa, lebih “dihargai”. Untuk memenuhi syarat BACAKADA (Bakal Calon Kepala Daerah) dan atau BACALEG (Bakal Calon Anggota Legislatif), gelar bisa dibeli dengan mudah di Universitas Jabotabek Selatan. Yah, beli saja; begitu saaaja repot-repot.

 Doktor Euis Komariah

Mengapa tidak ? Ceu Euis memperoleh kemampuannya sampai peringkat ini bukan satu-dua tahun melainkan bertahun-tahun sampai kini tetap belajar dan berlatih, bahkan mungkin diawalinya sejak masa kanak-kanak, sama seperti Kang Asep Sunandar Sunarya, Ki H.Anom Suroto, Ki H.Mateb S, Mang Burhan yang profesor suling Sunda, dan yang lainnya. Bedanya, mereka bukan produk universitas resmi.

Bagong Kusudiardjo (alm) diberi gelar Doktor HC, tidak asal-asalan, tetapi benar-benar pengakuan dan penghormatan atas kemampuan dan karya-karyanya yang beliau tekuni sepanjang hayatnya.

Banyak tokoh pelaku kesenian daerah yang nota bene tak bergelar sarjana yang diboyong ke negara lain, dan diposisikan sebagai dosen, guru di perguruan tinggi. Dengan kata lain, mereka disejajarkan dengan sarjana, bahkan mungkin doktor. Bukankah cukup banyak mahasiswanya yang akhirnya bergelar Profesor Doktor ?

Bagaimana kita

Penghargaan moral mereka peroleh dengan posisi yang diakui secara keilmuan. Penghargaan finansial, sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka digaji/dibayar bukan sekedar sebagai sinden atau dalang seperti di kota tempat tinggalnya (atau di Indonesia). Dua penghargaan yang harus sejalan, layak; tidak seperti guru yang dihargai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dengan gaji rendah “luar biasa”, sehingga untuk menjaga martabat pun tak bisa. Banyak lho, orang menjadi guru karena terpaksa [Susilo, Joko 2007, Pembodohan Siswa Tersistematis). Tantangan yang kita hadapi adalah mengembalikan martabat guru seperti sepertu doeloe. Guru adalah profesi yang diminati karena mulia, bukan karena terpaksa. Kata -kata mutiara ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ perlu diisi materi agar memiliki makna.

Bila perguruan tinggi di negara lain mau dan berani mengakui bahwa kemampuan mereka sebenarnya setara dengan kemampuan sarjana, mengapa kita tidak menirunya saja. Ini bukan plagiat, tidak sama dengan thesis atau desertasi colongan.

Beri mereka kesempatan dan kepercayaan membimbing para calon S.1, S.2, atau bahkan S.3. Barangkali kemampuan mereka menstrukturkan karya ilmiah dianggap kurang, bukankah ada ko-pembimbing yang harus diisi oleh seorang lektor ? Bukankah ujian terbuka dilakukan oleh beberapa orang penguji ?

Penghematan

Dengan para calon S.2 dan S.3 bidang seni-budaya daerah dapat menyelesaikan studinya di dalam negeri, maka secara kuantitas kita dapat memroduksi lebih banyak SDM bermutu dan tak tergantung kepada negara lain. Bagaimanapun kesempatan dan peluang ke luar negeri sangat terbatas, sedangkan di dalam negeri kita sebenarnya cukup mampu. Masalahnya, apa kita mau.

Selain itu, bukan sekedar penghematan uang dan waktu; melainkan juga harga diri bangsa. Sebagai warga Jawa Barat, saya mengelus dada bila seorang Ujang yang asli Padalarang harus belajar Cianjuran di Kalifornia, dan diajari oleh muridnya Ceu Euis yang belajar di Bandung.

Ah, lieur. Kumaha Mang Us, saena ? Kita sudah “kehilangan“ batik lho, yang hak patennya ada di Malaysia; tempe di Jepang; dan angklung yang jelas milik Jawa Barat dalam ‘ancaman’ dipatenkan oleh Malaysia. Sebentar lagi peuyeum, oncom tunggu waktu, dodol Garut perlu waspada.

Kesimpulan

Gelar kesarjanaan boleh saja disimak sebagai indikator awal, namun yang jauh lebih penting adalah kemampuan nyata penyandang gelar sepadan dengan gelar yang disandangnya. Dengan demikian, bila seseorang memiliki kemampuan yang setara dengan suatu gelar kesarjanaan, tak perlu ragu-ragu kita harus mengakuinya dan menghargainya. Bila dipandang perlu, maka gelar kehormatan dapat diberikan, namun harus melalui kajian yang benar-benar dikaji.

Sudah waktunya kita tidak silau oleh gelar kesarjanaan seseorang; melupakan di mana dan bagaimana gelar itu diperoleh.

Bandung Juli 2007

Penulis

Suwardjoko P Warpani

Pemerhati Budaya Nasional

2 thoughts on “GELAR KESARJANAAN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s