BAHASA INDONESIA, “SIAPAKAH” KAMU ?


Hasil UN memrihatinkan, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mengapa ? Tak perlu mencari “kambing hitam” karena kambing itu ada pada “mental” kita masing-masing. Kita sudah ingkar pada Sumpah Pemuda yang bergaung sudah hampir satu abad. Kita, termasuk para pejabat dan kebanyakan cendekiawan yang seharusnya menjadi panutan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, masih merasa lebih gagah menyelip-nyelipkan bahasa asing dalam bertutur dan menulis, padahal padanannya dalam Bahasa Indonesia sudah ada dan dikenal luas, atau kurang percaya pada kemampuan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia seolah-olah masih “asing” di negerinya sendiri. Bahasa Indonesia diremehkan, disepelekan. Salah satu bukti adalah hasil UN.

sumber gambar: http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/22/kenapa-harus-budi-bukan-badu/

UU No.24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, pasal 26-39 isinya me-wajib-kan penggunaan Bahasa Indonesia pada semua aspek kehidupan berbangsa. Pada pasal 30 tersurat “Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pelayanan administrasi publik di instansi pemerintahan”. Jelas dan gamblang sehingga tak perlu penjelasan. Apa lacur ? Simak berita di koran dan berbagai papan tulisan di sejumlah kantor lembaga pemerintahan dan TV. Ungkapan-ungkapan car free day, headline news, grand final, three in one,  one man one tree, say no to narkoba, helarfest, people’s power, inpassing, fit and proper test, training centre, bikefest, creative city forum, trafficking, , ranking,  existing (amat sering ditulis eksisting), diasumsikan, Creative City Forum dan masih amat banyak lagi, seolah-olah tak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia, bahkan padanan yang amat dipahami masyarakat dan sudah menjadi bahasa sehari-hari pun dianggap kurang tepat mengungkapkan makna yang terkandung. Bukan main.

Tolong para ahli di Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia lebih rajin melempangkan bahasa para pejabat tinggi NKRI yang kita cintai ini. Di NKRI yang sudah merdeka lebih dari 60 tahun plus Sumpah Pemuda yang sudah mendekati usia seabad, ternyata para pejabat tinggi negeri ini (dosen pun banyak) yang masih “kesulitan” mencari padanan kata atau ungkapan tersebut di atas. Padahal rata-rata bergelar akademik bahkan tak sedikit yang menyandang gelar S3. Saya yakin sikap kurang bangga menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar ini berimbas pada sikap para siswa yang menganggap Bahasa Indonesia tidak penting. Kita menganggap bahwa kita sudah mahir berbahasa Indonesia, tetapi gilirannya diuji baru terkejut bahwa kita tidak tahu, dan paling mudah menyalahkan guru.

Tolong semua media TV serta media cetak lebih banyak lagi terjun turut membina Bahasa Indonesia dan khusus media TV hendaknya disiarkan pada saat-saat tepat, bukan pukul 12.00 tengah malam. Siaran Binar sekali tiap minggu dan hanya satu stasiun TV yang menyelenggarakan, sama sekali tidak cukup. Daripada mengaduk-aduk isi kamar tidur dan dapur para pesohor, jauh lebih mulia menyajikan acara yang mencerdaskan anak bangsa. Acara “canda” memang perlu, tetapi tidak perlu setiap hari dan berlarut-larut. Para penyiar jangan hanya pandai mengambil alih tugas penyidik, tetapi juga menjadi agen pembinaan Bahasa Indonesia agar Bahasa Indonesia menjadi kebanggaan bangsa sesuai dengan jiwa Sumpah Pemuda. Banyak juga (termasuk beberapa penyiar dan pemandu acara TV) yang masih salah membaca kata “pasca”. Barangkali dikira bahasa Inggris atau kerabatnya Pascal yang ahli fisika.

Rata-rata kita bila berbahasa Inggris sangat tertib dan amat berhati-hati, mengapa gegabah berbahasa Indonesia. Sudah sumpah lo, jangan sampai “disumpahin”. Apakah tak tersentuh hatinya mengetahui adik-adik kelas IX dan XII ikut UN di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia, tidak lulus justru karena Bahasa Indonesia. Kita bangga diuji Bahasa Inggris bila kita akan belajar atau dipekerjakan di luar negeri, tetapi saya tak pernah tahu pekerja asing yang akan bekerja di Indonesia diuji kemampuanya berbahasa Indonesia. Konon, huru-hara Batam salah satu pemicunya adalah bahasa.

Saya usul agar uang pakaian dinas para pejabat tinggi (pasti tidak hanya satu setel) disisihkan satu setel untuk pembelian kamus Bahasa Indonesia sehingga setiap kamar pejabat memiliki Kamus Bahasa Indonesia. Pejabat tinggi saja, karena saya yakin bila pejabat tinggi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka pejabat di bawahnya sampai “gedibal-gedibal”-nya pun (ma’af agak kasar) akan membebek.

Penulis:

Suwardjoko  P   Warpani

Pemerhati Bahasa Indonesia

Staf Pengajar pada

Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota – SAPPK

Institut Teknologi Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s