Open Book vs Closed Book


Menjelang UAS (Ujian Akhir Semester) selalu saja ada pertannyaan standar dari mahasiswa saya, “Pak, ujiannya Buka Buku atau Tutup Buku, istilah buka buku dan tutup buku ini kadang dilafalkan dalam Bahasa Inggris, Open Book atau Close Book? hihihi  katanya pake Bahasa Inggris koq masih pakai atau? sudahlah lupakan masalah bahasa.

Pertanyaan ini pula yang sejak dulu selalu mampir di benak saya menjelang ujian, pilihannya kalau buka buku, maka saya bergegas  menuju rumah kawan yang rajin mencatat untuk menggandakan catatannya sebagai bekal saya di ujian nanti, kalau intruksinya tutup buku maka saya akan lebih bergegas lebih cepat lagi ke rumah kawan, meminjam buku untuk digandakan plus kerajinan tangan… membuat contekan .. ehmmmmm

http://www.colourbox.com/

Kejadian itu kan dulu di masa saya kuliah, semoga mahasiswa sekarang tidak begitu lagi dan menjalankan cara yang lebih canggih. Kadang saya senyum-senyum sendiri kalau ingat masa kuliah dulu, segala daya upaya dilakukan untuk melalui minggu-minggu UAS, bahkan salah satu teman saya sempat-sempatnya memasukan sejumlah rumus ke dalam pager atau biasa disebut radio panggil … komunikasi satu arah… sekarang masih ada ngga sih?

Kejadian di sekitar saya sejak dulu sampai hari ini selalu menjadi pertanyaan kecil namun besar dampaknya bagi peserta ujian… efektif mana sih ujian buka buku dibanding tutup buku? Apa dampaknya terhadap pendidikan siswa? Apakah menjadi jaminan bahwa hasil ujian buka buku lebih bagus atau tutup buku lebih bagus? Pasti anda punya pendapat sendiri kan? Apapun pendapat anda adalah pendapat anda, pendapat saya adalah pendapat saya, sehingga tulisan ini bukan untuk diperdebatkan dengan saya karena nenek saya pernah bilang bahwa kita boleh berbeda pendapat dan harus tetap saling menghargai pendapat orang… Hidup Nenek saya …!!! i love you eyang uti ….

Pengalaman dan pengamatan saya terhadap tindak tanduk dan perilaku siswa sejak saya belum lahir sampai hari ini ya masih sama saja, apabila ujiannya tutup buku maka sebagian besar siswa pasti akan belajar lebih keras menjelang ujian, sebagian kecil siswa akan santai dengan percaya diri tinggi karena keahlian menconteknya sudah kelas illusionist, dan sebagian yang lebih kecil lagi akan santai karena mereka sudah mencicil belajar setiap hari.

IMG00145-20100526-0830

Perilaku siswa apabila open book juga sudah diterawang sejak jaman dahulu oleh beberapa ahli pendidikan … , jangan tanya saya namanya karena dulu saya belum lahir. Sejak jaman Majapahit sampai sekarang kalau ujian buka buku pasti siswa akan berusaha mengumpulkan materi yang banyak, daun lontar di jaman purba, kertas hasil copy catatan di masa lalu sampai e-book dimasa kini… entah masa yang akan datang ada perkembangan apalagi.

Bagaimana dengan hasilnya? saya justru tidak menyoroti hasilnya karena hasil bisa saja direkayasa … contohnya: tidak banyak dosen yang mengembalikan hasil ujian kepada peserta ujiannya, peserta hanya menerima nilai ujian tanpa bisa beragumentasi mengenai jawabannya, dosen juga manusia ……!!! begitulah yang pernah dilantunkan salah satu penyanyi di negara ini, saya lupa namanya, orangnya gondrong, suaranya bagus deh…

Sampai hari ini juga saya masih belum bisa memaknai keuntungan dari ujian tutup buku. Coba bayangkan (telunjuk tempel di kening) …  selama satu semester siswa akan melalui beberapa kelas (Mata Kuliah), beberapa dosen dengan karakternya masing-masing, puluhan buku referensi, puluhan rumus, puluhan gambar dan atau foto untuk dimaknai kaitannya dengan kata, puluhan halaman tugas mandiri serta ratusan halaman buku untuk dipelajari dan diresap oleh otak mereka.

Ketika saatnya tiba… mereka akan bertindak seperti Bandung Bondowoso yang harus menyelesaikan Candi Sewu sebelum ayam berkokok atau seperti Prabu Sangkuriang yang harus menciptakan perahu besar sebelum matahari terbit …. bener kan ya dulu begitu ceritanya? SKS yang sering dipelesetkan menjadi Sistem Kebut Semalam rupanya sudah ada sejak jaman Flinstone …

Lalu kalau begitu ceritanya apakah siswa akan lebih pintar? apakah akan lebih rajin? Lalu setelah hafal semua isi materi apakah ada jaminan mereka akan bisa?

Begini lah kisah mudahnya… pengalaman saya aja deh… Setelah kerja saya dikenalkan dengan beberapa ilmu yang berkaitan dengan penerbangan, ilmu yang saya sentuh langsung bukan ilmu di awang-awang … Salah satu ilmu penerbangan di pekerjaan saya bahkan mengharamkan kita untuk menghafal, kudu wajib harus petugas yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan itu membuka buku referensi

Saya coba beralih ke pekerjaan lain… sebagai orang yang belum pernah kuliah di kedokteran saya akan menilai bapak dan ibu dokter yang ganteng dan cantik. Berkali-kali saya dengan amat sangat terpaksa harus ke dokter karena ingin sembuh, dan beberapa kali pula saya temui dokter itu membuka buku referensi karena dia memastikan bahwa diagnosanya tidak salah, demikian juga dengan obat yang akan diberikan ke saya.

Bagaimana dengan yang mulia bapak Hakim? Jaksa? Pengacara? walau saya bukan ahli hukum saya dapat pastikan bawah mereka tidak akan hafal semua undang-undang yang ada, sehingga saya dapat pastikan bahwa mereka pasti akan buku buku referensi kalau lupa atau ragu… bukan begitu bukan?

Nah!!! lalu apakah dengan saya hafal nama obat, hafal undang-undang, khatam buku IATA DGR maka saya bisa mengerjakan semua itu?  apakah saya bisa menjalani pekerjaan itu? ngga lah saya mah ngga berani kalau hanya modal hafalan saja tanpa pengalaman dan pengetahuan serta wawasan lebih dibanding apa yang tertulis di dalam buku referensi.

IMG00115-20100522-1019

Pernah ada rekan saya yang bilang kalau dibiarkan buka buku maka siswa tidak belajar … bisa jadi betul mereka tidak akan belajar dalam artian menghafal namun mereka pasti akan berusaha mencari buku referensi.

Pernah juga ada yang bilang … nanti siswa enak dong tinggal menyalin jawaban dari buku … ya itu mah dosennya aja yang kasih pertanyaannya kurang membuat siswa berpikir dan menganalisa, melainkan mendorong siswa untuk menyalin dari buku.

Sebagian besar dosen selalu bilang bahwa teori dan praktek tidak 100% sama, namun saat ujian selalu membalikan pernyataan itu dan menuntut jawaban peserta ujian harus sama dengan buku.

Harus beda dengan buku dong? ya jangan terlalu harfiah gitu ah mikirnya… liat dulu apa masalahnya … kalau undang-undang dan atau ayat suci yang harus 100% sama plek plek dengan yang tertulis, oleh karenanya janganlah buat pertanyaan yang menggiring  jawaban untuk menyalin dari buku, melainkan pertanyaan studi kasus atau sesuatu yang mendorong siswa untuk berpikir dan belajar menyatukan pikiran dangan tangan sehingga apa yang dipikir bisa turun ke tangan … seperti kata pepatah lawas … dari mata turun ke hati

LightRoom4XO (1 of 1)

Kalau pernah baca tulisan saya tentang Sekolah Yang Tertinggal maka pikiran kita akan melayang jauh ke masa-masa indah saat kita SD dulu… di tulisan itu diperlihatkan soal matematika anak kelas 6 SD, mereka sudah disuruh membuat kesimpulan dari tabel, sudah agak berkembang. Jadi kalau mereka hafal rumus, misalnya rumus mencari rata-rata namun tidak bisa menerapkannya akan sia-sia saja.

Kesimpulan saya sederhana saja, hafal isi buku belum tentu bisa menyelesaikan kasus di lapangan, namun siswa yang berwawasan luas serta diberi kebebasan berpikir dan menulis akan lebih lancar dan taktis dalam menyelesaikan masalah sehingga lama kelamaan akan hafal juga bagian-bagian penting di buku, kembali ke pepatah lawas … bisa karena biasa …

Kembali ke tujuan awal… mahasiswa dipersiapkan untuk siap kerja, dan sampai saat ini saya belum pernah menemui pekerjaan yang melarang petugasnya untuk buka buku.

Apakah buka buku akan meningkatkan nilai siswa? Tidak ada jaminan juga koq, namun setidaknya ujian buka buku akan menurunkan tingkat stress siswa…

Anda punya pendapat lain? silakan saja ini cuma pendapat saya dan saya tidak akan mendebat pendapat anda sesuai anjuran nenek saya …

Salam

3 thoughts on “Open Book vs Closed Book”

  1. Mang ari soal siswa jeung mahasiswa mah timulai aya nya kitu adatna…! coba pelajaran saya suruh buka bukupun paling tinggi 70, suruh bikin Load Plan, Load Message dan Load Sheet pasti buka bukupun ngga ada contekanya…..! mangkana ngajar nu hese di contekna !
    Salam alus tulisanana.

    1. tah eta intina juragan, pengajar kudu harus innovatif ulah kaku kuno bin jadul… hatur nuhun parantos mampir ke blog ieu🙂

  2. Pengalaman waktu kuliah .. kalo ujian nya buka buku pasti ga ada jawaban nya di buku .. kalo ujian nya tutup buku jawaban nya harus sama dengan yg ada di buku … pengajar harus innovatif , support selalu buat para pengajar ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s