Banjir euy !!! (Kilas Balik 11 tahun yang lalu)


Berikut ini ada tulisan lama, tulisan ayah saya 11 tahun yang lalu tentang banjir, cerita dan pemikiran tentang banjir yang ditulis dalam bahasa sederhana untuk dipahami, dari tulisan dibawah ini semoga kita dapat melihat apa saja kemajuan selama 11 tahun untuk mempersiapkan bencana banjir, selamat membaca … semoga berguna

Berikut ini tulisannya:

Banjir sudah lewat ? Benar, namun dapat dipastikan akan datang lagi; tak perlu ragu-ragu. Pasti pula derita pasca banjir sedang dalam proses pemulihan, jadi kita tak boleh lengah dan merasa bencana sudah usai. Justru pada saat inilah, sementara kita menangani bencana akibat banjir, kita harus bekerja dan berupaya keras merencana, merancang, dan membangun berbagai hal untuk menanggulangi banjir yang akan datang. Citra air bah harus “diubah” agar tidak mendatangkan musibah melainkan berbalik menjadi berkah.

Masyarakat, kecuali mereka yang menderita dan sedang bebenah merehabilitasi hartanya yang rusak akibat bencana banjir, tampaknya sudah “lupa” hiruk-pikuk ketika banjir melanda sejumlah kota di tanah air, termasuk Jakarta yang ibukota negara. Bahkan bukan tidak mungkin beberapa waktu lagi teriakannya berganti menjadi lagu derita kekurangan air. Biarkan itu urusan belakang, yang ada di depan hidung adalah bagaimana bisa duduk di kursi gubernur nan agung.

photo
Sumber Foto: http://news.loveindonesia.com/en/news/detail/112854/jokowi-atasi-banjir-jakarta-tak-mudah

                Bukankah pada masa “kering” kita harus kerja keras menghadapi masa kelebihan air yang bisa menjadi banjir, dan di kala air melimpah kita bekerja ekstra keras menampung air untuk menghadapi masa kering ? Sudahkah kita berpikir dan berbuat dengan pola ini; bersiap-siap menghadapi banjir di kala kemarau dan bersiap-siap menghadapi kelangkaan air di musim hujan ?

Kerugian akibat banjir

Luar biasa. Kerugian akibat banjir awal tahun 2002 sungguh mencengangkan. Belum seluruh data yang terekam oleh media masa, angka-angka berikut pun sudah membuat kita terperangah. Di Serang, 9.000 ha sawah rusak atau dipusokan. Luas sawah yang tergenang banjir 15.000 ha dan kerugian mencapai bilangan Rp 63 Milyar.

15 kabupaten sepanjang Bengawan Solo dalam kondisi siaga. Dikabarkan 9 orang tewas karena banjir. Kabupaten dan kota di Jateng dan Jatim yang dikhawatirkan tenggelam jika Bengawan Solo meluap adalah: Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Solo, Sragen, Karanganyar; Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Bojonegoro, Lamongan, Gresik.

Banjir di Jakarta bulan Januari 2002, telah  menjamah 168 kelurahan di 42 kecamatan, atau 63% wilayah Jakarta terjamah banjir. Lebih dari 30 orang meninggal karena banjir (kebanyakan anak-anak), ribuan orang sakit, dan lebih dari 20 orang meninggal karena diare akibat banjir. Kira-kira 400.000 jiwa (sekitar 76.000 kk) menderita karena banjir. Jalan yang rusak akibat banjir membutuhkan dana Rp 1,8 Trilyun untuk merehabilitasinya. Untuk pengembangan wilayah dibutuhkan pula Rp 17 Trilyun selama 10 th. Biaya pemulihan kondisi Jakarta pasca banjir membutuhkan Rp 15 Trilyun. Dalam pada itu, DKI Jakarta hanya mampu memberi bantuan dana kepada beberapa kelurahan sebesar Rp 50 Juta. Sangat tidak mencukupi, namun itulah kemampuan yang ada di saku kiri DKI, sedangkan yang di saku kanan adalah untuk rehabiltasi bunderan HI dengan air muncratnya. Bappenas konon menyediakan Rp 15 Trilyun untuk mengatasi banjir Jakarta.

Kerugian Kota Bekasi karena banjir Rp 58,4 M. Longsor Kuningan menelan Rp 578 J. Akibat banjir PLN rugi Rp 40 M. Pada saat yang hampir bersamaan, 80% Kota Pekalongan terendam air.

Apabila semuanya dirupiahkan dan dibebankan kepada pemerintah, tak terbayang dari mana dana akan diraup untuk membiayai itu semua.

k21
Sumber foto: http://bebasbanjir2025.wordpress.com/aspek-aspek-tentang-banjir/aspek-kerugian-banjir/

Peduli lingkungan

“Kambing hitam” gampang dicari untuk menjadi sasaran tudingan penyebab banjir. Pembangunan tak terkendali di daerah hulu, pengubahan guna lahan semena-mena, pembangunan tak ramah lingkungan, pengembang tak bertanggungjawab, rumah-rumah di bantaran sungai, reklamasi ngawur, dan masih banyak lagi yang bisa dituding. Lantas, apa yang sudah dan sedang dilakukan senama “menunggu” banjir yang akan datang ?

Ada pendapat menarik dan rasional perihal rumah-rumah di bantaran sungai, bahwa perumahan di bantaran sungai bukan biang banjir, melainkan yang pertama terlanda banjir dan yang paling menderita terpaan air bah. Bahwa bila ada air bah maka perumahan tersebut dilanda banjir adalah karena letaknya di bantaran sungai. Justru perumahan di bantaran sungai harus “dikasihani” dan oleh karena itu patut dipindahkan. Bukan karena menyebabkan banjir melainkan karena yang pertama dan paling menderita dilanda banjir.

Ironis memang, bahwa banyak lahan penangkap air justru diubah menjadi lahan perumahan, dan pada gilirannya musim hujan, semua orang, terutama penghuni dan pengamat berteriak: “banjiiiir, banjiiiiir”. Padahal sejak doeloe, ke sanalah kelebihan air selalu mengalir. Doeloe, tak pernah disebut banjir. Bila air mampu berteriak, maka airlah yang lebih keras berteriak: “minggiiiir, minggiiiir”, ini jalanku mengalir dan di situ aku menggenang. Begitu pula kurang lebih jeritan air bah yang melimpah ke bantaran sungai. Maka yang benar: tak ada banjir, yang terjadi adalah manusia memasuki wilayah air.

PT. Mandara Permai menguasai seluruh PIK 1.162,48 ha; Sudah terbangun 831,63 ha; 380,75 ha areal sisa PIK, yakni Hutan Angke Kapuk (HAK), agar tetap jadi resapan. Berdasarkan SK Menhut No.422/Kpts-II/1988 diputuskan kompensasi penunjukan tanah pengganti HAK adalah Pulau Penyaliran Timur (19,5 ha) dan Pulau Penyaliran Barat (18,41 ha) di Kepulauan Seribu. Lokasi lain berdasarkan SK Menhut No.166/7-4/1988 yakni di daerah Ciharum Kab.Cianjur seluas 1.190 ha, Desa Rumpin, Bogor (75 ha) dan Desa Nagrak, Sukabumi (35 ha). Apakah tempat-tempat itu pengganti fungsi HAK atau sekedar penganti luas ruang wilayah saja tanpa peduli akan fungsi yang hilang ? Di sini tampak ada sesuatu yang diabaikan yakni fungsi HAK sebagai daerah resapan dan atau genangan air.

Sejak lama sudah diketahui bahwa kondisi Bopuncur kian menurun mutunya, sihingga fungsinya sebagai penahan erosi dan banjir makin berkurang. Sudah pula ada Keppres No.114 th.1999 tentang Penataan Kawasan Bopuncur. Sementara itu beberapa rencana pembangunan yang mencakup beberapa wilayah administrasi belum trgarap dengan baik, antara lain:

  1. Penataan ruang secara menyeluruh, terutama menyangkut wilayah Bogor, Puncak, Cianjur, Jakarta, Tangerang, Bekasi, Pantura Jkt.
  2. Pembangunan prasarana pengendali banjir dengan pendekaran “satu daerah aliran sungai, satu rencana”.
  3. Perumahan dan permukiman terutama bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, dan mengadakan evaluasi menyeluruh terhadap semua proyek pengembangan perumahan.
  4. Prasarana perkotaan, seperti drainase kota dan pengelolaan sampah.

Menarik untuk dicermati bahwa amat banyak rumah di bantaran sungai memiliki girik tanah. Selain itu, banyak rumah di bantaran sungai yang bernilai kontrak ratusan ribu per bulan. “Bagi saya bantaran Kali Ciliwung itu lebih mirip Ciliwung City. Listrik, air tersedia dan jalan-jalan diaspal bagus”, kata Iin yang mengaku telah tinggal di bantaran Kali Ciliwung Jakarta Timur lebih dari 12 tahun dengan sewa kontrak satu pintu Rp 250.000,- per bulan. Tentu saja Iin tak dapat disalahkan. Itulah pilihan terbaiknya. Bukankah itu Ciliwung City ? Lantas siapa yang salah ?

Perumahan di bantaran sungai bukan biang banjir, melainkan yang pertama terlanda banjir dan yang paling menderita terpaan air bah. Bila ada air bah maka perumahan tersebut dilanda banjir adalah karena letaknya di bantaran sungai. Bukan satu-satunya yang menyebabkan air melimpah ruah.

Penyebab bencana banjir tak bisa  hanya daerah hulu saja yang disalahkan. PIK adalah rawa resapan air yang ditimbun. Apakah PIK bukan penyebab bencana ? Ke mana air –yang sedianya ditampung di rawa– lari bila rawanya sudah ditimbun ? Salahkah air yang mengikuti kodratnya mengalir ke daerah yang terendah ?

Rejeki Pasca Banjir

Orang Jakarta dilada banjir, orang Bogor banjir uang. Pencari rumah dari Jakarta mengincar Bogor. Dalam waktu relatif singkat, rumah di Kota Bogor banyak yang berpindah tangan atau dikontrak orang Jakarta. Harga rumah Rp 150 J – Rp 260 J dianggap lumayan murah. Akses Bogor-Jakarta relatif mudah. Di balik musibah ada berkah; musibah di Jakarta, berkah di Bogor.

Toko material bangunan pun pasti memetik berkah pasca banjir. Amat banyak rumah atau bangunan yang perlu perbaikan karena beberapa hari terendam air. Perabot rumah tangga pun banyak yang hanyut terbawa air bah. Ribuan orang bingung mengatasi kebutuhan perabot yang rusak atau hilang, namun ribuan orang pula yang dengan mudah dapat menggantinya. Bukankah ini rejeki bagi tarusan toko perabot rumah tangga ?

Konon, kejahatan selama musim banjir meningkat 20%]. Terkutuk, namun bisa dimengerti. Pencoleng memang menunggu saat orang meleng. Saat itu datang pada saat perhatian orang tertuju pada bencana dan berupaya menyelamatkan harta miliknya. Di samping itu, karena kesempatan terbuka maka muncul pula pencoleng dadakan atau musiman. Mereka “meraup” rejeki di atas derita sesama.

Penanganan terpadu, sekarang.

Satu tahun tidak lama. Banjir pasti hadir meski belum tentu sedahsyat yang baru lewat. Apa yang bisa dilakukan dalam setahun ? Apa pula yang membutuhkan waktu lima tahun atau lebih. Atau kita tunggu nanti saja, bukankah masih banyak “kambing hitam” berkeliaran ? Untuk apa repot-repot mengurusinya, bukankah itu urusan nanti ? Urusan pejabat yang akan datang ? Sekarang pun sudah banyak urusan yang harus digarap. Sekarang adalah sekarang, nanti adalah nanti. Beginilah kira-kira pola pikir pejabat yang jangkauannya hanya selama masa jabatan.

Selama ini penanganan banjir dilakukan tanpa koordinasi. Semua tampak “sibuk” saat kejadian, namun tak jelas siapa melakukan apa, di mana, dan kapan. Seolah-olah semua bergerak serempak, hiruk pikuk, sementara instansi terkait tidak melakukan apa-apa karena tidak memiliki apa-apa. Bukankah sekarang waktunya untuk duduk bersama merencana dan membagi kerja siapa akan melakukan apa di mana dan kapan serta harus memiliki apa untuk menanggulangi bencana ? Jangan dijadikan proyek. Ini bukan pembagian rejeki, tetapi pembagian tugas demi efektivitas dan efisiensi.

PENANGGULAN-BANJIR.2
Sumber Foto: http://beritahukum.com/detail_berita.php?judul=Simulasi+Bencana+Banjir+di+Desa+Sungai+Tabuk+Kabupaten+Banjar#.UPaPdCdg-3I

Bagaimana nasib “situ” (empang) di Jakarta yang tinggal 40% ? Bagaimana sungai yang mendangkal. Bagaimana nasib kanal-kanal, got, dan selokan yang tak terpelihara  ? Sekarang saatnya membersihkan sampah yang ada dan tidak menambahnya dengan sampah baru. Namun tampaknya semua masih santai, banjir masih lama (???).

Suatu saat PIK pernah dihujat menjadi salah satu dari sekian banyak biang banjir. Apakah amdal PIK perlu diteliti ulang ? Sekarang atau menunggu banjir datang ? Evaluasi ulang rencana PIK dan tentukan langkah-langkah membangun PIK selanjutnya !! Mengembalikan PIK menjadi HAK seperti semula adalah kerja sia-sia dan mubazir. Yang diperlukan sekarang adalah membuat dampak banjir oleh PIK turun sampai batas minimal.

Belum ada berita di media masa (atau memang tidak diberitakan ?) langkah-langkah upaya menanggulangi banjir yang akan datang. Urusan air memang ditangani oleh beberapa departemen. Masing-masing mempunyai kepentingan yang tidak mustahil saling tabrak. Bagaimana sikronisasi di lapangan ? Adakah ?

Di Belanda, perkara air ditangani oleh tiga departemen, yakni: (1) Dept. Perhubungan, Pekerjaan Umum, dan Manajemen Air; (2) Dept. Perumahan, Perencanaan, dan Lingkungan; dan (3) Dept. Pertanian, Pengelolaan Alam, dan Perikanan. Negera kecil di bawah permukaan air laut ini bisa “bebas” banjir. Suatu ketika memang pernah terlanda banjir akibat bendungan bocor, namun penanganannya tidak terkesan serabutan. Meskipun Belanda pernah menjajah kita selama ratusan tahun, apakah dalam hal mengendalikan air tidak layak kita tiru ?

Kini, yang sedang “hangat” kala Jakarta menapaki usianya yang ke-475 tahun adalah upaya merangkak naik ke kursi gubernur. Ramai gegap gempita pendaftaran balon gubernur, dari rakyat pada stratum terbawah sampai teratas. Banjir sudah terlupakan; sudah lewat. Yang akan datang ? Bagaimana nanti saja. Dirgahayu DKI Jakarta, semoga pada usia 476 dan selanjutnya tidak ada lagi berita “BANJIR MELANDA ISTANA MERDEKA”

Bandung, Juni 2002

Penulis

Suwardjoko P Warpani

Pemerhati angkutan dan lalu-lintas

Staf Pengajar pada

Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota

SAPPK – Institut Teknologi Bandung

3 thoughts on “Banjir euy !!! (Kilas Balik 11 tahun yang lalu)”

  1. Khusus masyarakat Jakarta, bentuklah gerakan “anti banjir”. Sosialisasikan apa penyebab utama banjir, bagaimana menanggulangi banjir, bagaimana menjaga kebersihan lingkungan (terutama daerah aliran sungai dan bantaran kiri-kanannya), serta bagaimana mengelola sampah kepada penduduk di sekitar bantaran kali. Banjir di Jakarta itu tanggung jawab semua warga kota (provinsi) itu; bukan hanya pemerintah.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s