LightRoom4XO-00762

Review NORCO Range Killer B, Part 2 (UpHill test)


Setelah menjalani test pertama di jalan aspal, kali ini saya akan test Norco Range Killer B di habitat yang sesuai dengan MTB yaitu di track offroad. Pagi ini saya bersama dua teman yaitu Ely Siswanto dan Irre Heriyanto, mereka sengaja meluangkan waktu untuk menemani saya. Track yang kami pilih adalah Taman Kota 2, JPG dan Cihuni, ketiga track itu mempunyai karakter yang berbeda sehingga saya pikir cocok untuk mengetahui performa sepeda ini. o iya, test PART 1 silakan CLICK

Beruntung karena semalam hujan baru turun, kondisi ini memang yang saya harapkan karena track pasti akan berlumpur, jadi bisa sekalian ngetes kualitas ban yang digunakan Norco Range Killer B. Pagi ini kami janjian di Mc Donalds BSD, sekalian merayakan ulang tahun om Ely …. lumayan sarapan burger.

Rute pertama tentunya mau tak mau harus melalui jalanan aspal, sekalian ngetes dibandingkan dengan dua sepeda hardtail om Ely & om Irre, ternyata di jalanan aspal datar performa Norco lumayan juga, dibekali wheelset 27,5 inch membuat sepeda ini melaju lebih cepat dibandingkan ban 26 inch.

Cihuni Hill memang menjadi tujuan pertama karena banyak tanjakan, Norco memang sepeda All Mountain, untuk tanjakan tentunya tidak secepat sepeda XC, apalagi yang hardtail. Tidak lama kami mengisi minum di warung bawah, tiga sepeda bergegas melaju melahap tanjakan yang ada, tanah licin dan beberapa lokasi berlumut.

Tanjakan di sini memang tidak terlalu curam namun jumlahnya banyak, ban Schwalbe Hans Dampf ukuran 27,5 dengan lebar 2.35 berhasil membawa Norco Range Killer B di semua tanjakan dengan baik dan benar, artinya semua bisa dilalui tanpa harus turun dari sepeda dan dorong, cengkraman ban ini terasa bagus untuk track yang becek dan licin, ukuran yang lebar membuat lebih stabil di setiap belokan.

Norco Range Killer B ini disangga fork X-Fusion Vengeance dengan travel 160 mm. Fork panjang ini tidak mengurangi kemampuan sepeda di tanjakan ini artinya geometry frame dirancang dengan baik dan sesuai dengan riding style saya. Banyak orang beranggapan bahwa fork panjang sulit digunakan untuk tanjakan, hal itu benar adanya apabila penggunaan fork tidak sesuai dengan geometry frame. Di beberapa tanjakan sepeda ini melaju dengan tenang sementara dua sepeda di belakang dengan ukuran ban 26 inch tidak bisa melaju, bukan karena ukuran rims melainkan licin dan ban berputar tanpa bisa maju, lihat deh video di bawah ini:

Tiba saatnya saya mencoba turunan dengan belokan tajam, head angle 66,5 derajat membuat sepeda ini nyaman di turunan, posisi badan tidak perlu terlalu condong ke belakang, rear shock x fusion O2 RL mampu meredam getaran dengan baik dan sepeda terasa stabil tidak ada oleng saat dipacu dengan kecepatan tinggi di turunan dan belokan.

Keenakan turun dengan cepat membuat saya lupa bahwa handling sepeda dengan rims 27,5 inch berbeda dengan sepeda 26 inch, gubrakkk!!!! saya jatuh di belokan tajam, ternyata belok menggunakan sepeda ini tidak sama dengan sepeda 26 inch, sepeda dengan lingkar roda lebih besar ini tidak hanya mengandalkan kendali ban depan namun harus dibarengi dengan badan pengendara.

Kondisi track yang masih basah sisa hujan semalam menyisakan bekas di sepeda saya, ranting dan alang-alang bercampur tanah terbawa ban depan dan belakang membuat efek donuts, tentunya hal ini mengganggu ditambah jarak dari ban ke swing arm terlalu dekat sehingga berkali-kali saya harus berhenti membersihkan tanah karena membuat roda enggan berputar.

Masih belum puas dengan uji coba ini kami bertiga meluncur ke track Taman Kota 2 yang lebih technical di tanjakan ataupun turunan, lagi-lagi harus melalui jalan aspal, tercatat 13 km kami tempuh untuk mencapai Taman Kota 2, di jalanan aspal kembali sepeda ini membuktikan kembali keunggulan rims 27,5 inch atau biasa juga disebut 650B, laju sepeda terasa lebih cepat dan nyaman apabila melalui lubang.

Ternyata di Taman Kota 2 terlihat lintasan masih licin dan becek juga… hehehe bagus nih … awal test yang saya coba adalah di tanjakan akar, lingkar roda yang lebih besar terasa efeknya di tanjakan yang tidak mulus ini, gundukan akar dapat dengan mudah dilalui, cengkraman Schwalbe Hand Dampf sangat bersahabat dengan tanah yang licin, tanjakan ini bisa dengan mudah dilalui.

Berikutnya adalah turunan Landak Susu, masih terlihat licin juga namun saat menuruninya sepeda terasa stabil dan handling dengan lingkar roda 27,5 memang terasa bedanya.

Selanjutnya kami melalui jalur yang dipenuhi pohon-pohon di kanan kiri, sempit, panjang handlebar 740 mm ini terasa mengganggu karena berpotensi bersentuhan dengan batang pohon, selain itu bentuk handlebar yang relatif datar membuat punggung cepat pegal, sudah mulai terasa di bagian belakang tubuh saya.

Target selanjutnya adalah tanjakan tembok, lagi-lagi panjang fork 160 mm tidak membuat sepeda ini sulit di tanjakan yang menurut beberapa orang curam, sepeda ini dapat dengan mudah mendaki tanpa perlu memposisikan badan condong ke depan, terbukti lagi frame ini geometrynya dirancang dengan baik, demikian pula di tanjakan Yoyok, posisi sebelum nanjak adalah berhenti di titik bawah kemudian nanjak, juga terasa enak.

Sampai titik ini fisik sudah mulai kelelahan, lingkar roda 27,5 inch dibalut roda 2.35 terasa menyulitkan dan mengurangi kelincahan sepeda ini, sangat terasa di turunan S, lagi-lagi saya terjatuh karena sepeda lambat mengikuti jalur, roda besar memang kurang lincah.

Om Irre penasaran, dicobalah sepeda ini di tanjakan Heriz lanjut ke tanjakan Kebo, enak buat nanjak namun handlebar kurang enak di badan. si samping itu ban belakang yang lebar dan mepet ke swing arm terasa sangat mengganggu, akan lebih baik kalau saya ganti dengan ukuran ban 2.10, maksimun 2.25, masalahnya sampai hari ini saya belum menemukan penjual ban 650B.

Usai mencoba track Taman Kota 2 kami meluncur ke JPG Mountain Bike Park, bentuk handle bar terasa semakin menyiksa punggung demikian juga dengan saddle yang tidak nyaman digunakan untuk perjalanan jauh, apabila dibandingkan dengan WTB maka akan terasa jauh bedanya, kenyamanan saddle bawaan Norco saya nilai kurang,

Track JPG Mountain Bike Park dapat dilalui dengan mudah, redaman rear shock terasa nyaman dan membuat sepeda ini tidak liat dipacu dalam kecepatan tinggi, drive train SRAM X5 mulai terasa kurang bersahabat, terutama di RD, sepeda mulai dipenuhi lumpur dan RD bawaan pabrik menyulitkan karena sering tertarik rantai ke arah depan, pulley kurang bagus apabila tertutup lumpur, berbeda jauh dengan SRAM X9 yang biasa saya gunakan, jauh lebih handal di lintasan yang berlumpur.

Pinggang dan punggung semakin terasa sakit akhirnya saya putuskan tidak melintasi semua track, hanya sampai turunan patok dan belok kanan menuju Warung Mpok untuk beristirahat.

Track 3 Dimensi sudah saya coba, walaupun belum dibawah jauh naik turun gunung keluar masuk hutan namun sementara ini saya sudah dapat kesimpulan dari sepeda ini. Tampilan yang garang dan terkesan berat ternyata hanya fatamorgana, beberapa teman yang sudah mencoba sepeda ini mengatakan ini lebih ringan digunakan dibandingkan sepeda saya sebelumnya.

Frame saya ukuran S dengan tinggi seat tube 16 inch, namun ketika dikendarai terasa sepeda ukuran 17, entah kenapa sepeda ukuran S ini terasa lebih panjang.

Fork X fusion karakternya pas dan lembut sehingga getaran dapat diredam dengan baik.

Ukuran ban belakang terlalu besar dan tidak cocok digunakan apabila lintasan masih penuh dengan rumput dan alang-alang.

Handlebar yang lebar dirasa cukup untuk mengimbangi roda 27,5 inch namun bentuknya tidak cocok dengan saya karena membuat pinggang dan punggung sakit

Saddle tidak nyaman digunakan untuk perjalanan jauh, cepat membuat pantat sakit dan pegal.

RD SRAM X5 tidak cocok untuk digunakan di sepeda ini kalau melalui track yang penuh lumpur karena beberapa kali RD hampir patah tidak bisa mengatasi lumpur di pulley.

Ukuran ban depan belakang yang sama yaitu 2.35 tidak enak digunakan karena membuat tenaga cepat terkuras, seharusnya ban belakang lebih kecil yaitu ukuran 2.10 – 2.25 saja.

Hand grip bawaan pabrik keras dan tidak nyaman di tangan.

Namun secara keseluruhan saya puas dengan tampilan sepeda ini yang kesannya sangat juga performanya bisa diandalkan di track yang ekstrim asalkan beberapa parts tadi diganti dengan yang sesuai gaya berkendara saya.

Demikian review singkat versi saya tentang NORCO Range Killer B, mungkin bisa menjadi pertimbangan anda yang sedang mencari sepeda MTB.

Terima kasih om Ely Siswanto dan Irre Heriyanto yang sudah menemani saya terutama foto-fotonya karena sebagian besar foto di atas adalah hasil karya om Ely dan om Irre.

Selanjutnya saya akan mencoba sepeda ini di track yang lebih panjang dan bukan di tempat yang biasa saya lalui, kita lihat hasilnya minggu depan.

Salam Review

Twitter & Instagram: @ekoprobo

10 thoughts on “Review NORCO Range Killer B, Part 2 (UpHill test)”

  1. wahhh,,,sepeda yg mahal ternyata banyak kelemahannya juga,om..apalagi hrus ganti ban yg tidak semua toko sepeda menjualnya..

    1. hehehe iya om, sepeda apapun pasti ada lemahnya, semoga sebentar lagi banyak yang jual ban 27.5″ karena sudah mulai banyak sepeda yang pake ban ukuran ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s