2987_1151791916141_1530054_n

Di Balik Blangkon dan Keris Bapak


Tulisan ini saya persembahkan untuk bapakku tercinta di hari ulang tahun yang ke 76 pada tanggal 8 Juni 2013

Hidup dalam keluarga Jawa yang medok tentu tak lepas dari nuansa budaya Jawa yang seringkali dilambangkan dengan blangkon dan keris. Pengalaman hidup saya banyak diwarnai budaya itu serta tempaan disiplin tinggi dari ayahku. Bapak … itu adalah panggilanku terhadap ayah.

Filosofi kehidupan masyarakat Jawa sangat kental melekat di bapakku. Tindak tanduk, perilaku bapak sangat njawani … lantunan gending Jawa senantiasa mewarnai suasana rumah bapak. Sejak kecil sampai saat ini suara gending Jawa selalu membuat hati saya hanyut dalam suasana keluarga yang hangat dan lembut … selembut hati ibuku tersayang.

331368_10150267468812703_2374073_o

Kelembutan tutur kata bapak diimbangi oleh sifat keras dan disiplin yang tinggi, bapak selalu menekankan anak-anaknya untuk selalu disiplin, berhati lembut dan santun.

Bentakan keras dari bapak yang berulang kali saya terima telah membuat saya semakin tegar, telunjuk bapak seolah menjadi instruksi yang tak dapat saya abaikan. Gelegar suara bapak saat saya bersalah seolah menjadi suara paling menakutkan yang pernah saya dengar… dan sebagai akibatnya saya menjadi Eko kecil yang tangguh serta tak pernah menyerah …

Di sisi lain…. kesantunan bapak selalu membuat saya selalu berusaha mencontoh dia untuk bisa lebih santun terhadap siapapun tanpa membedakan orang, kesantunan khas kraton kerap tercermin dari tingkah laku sehari-harinya.

209811_1670577960315_1711455_o

Bapak adalah orang desa, bapak berasal dari kota kecil … kata-kata itu berulang kali saya dengar … bapakku memang dari desa bapakku memang bukan dari kota besar namun bapakku adalah orang yang berjiwa besar, bapakku mampu membuat keluarganya menjadi keluarga yang sangat indah.

Bentakan keras serta tatapan mata tajam bapak membuat saya lemas… saat kecil dulu saya sempat meremehkan orang kampung dengan sebutan kampungan. Bentakan keras bapak terhadap saya yang berhasil mendidik saya menjadi anak yang tidak pernah mau lagi membedakan status orang… ternyata di balik kerasnya bapak ada hati yang lembut dan selalu mengajarkan saya untuk bisa menghargai semua orang …

Picture 133

Tajamnya kumis bapak, kerasnya telapak tangan bapak dan tatapan matanya yang tajam berubah menjadi lembut saat mencium Eko kecil, tangannya yang kuat selalu membuat saya merasa aman dalam gendongannya serta tatapan mata penuh kasih saat saya berada di pelukannya… kenangan tak pernah hilang dari ingatan saya.

Bapak adalah ayah yang membuat kami anak-anaknya menjadi anak yang istimewa, saya dan adik-adiku … Ninil dan Aji terbentuk oleh Bapak menjadi anak yang sangat bangga menjadi anak Bapak dan Ibu, hati kecil saya selalu mengatakan bahwa saya sangat bangga menjadi anak  Bapak dan Ibu.

“Kalian bertiga adalah anak istimewa” … demikian yang selalu Bapak katakan pada kami.

Saya sebagai anak laki-laki sulung adalah anak istimewa karena kelahiran saya paling mendebarkan dan ditunggu oleh Bapak dan Ibu

Ninil sebagai anak kedua adalah anak istimewa karena anak perempuan satu-satunya di keluarga… adik perempuanku ini adalah satu-satunya anak perempuan kesayangan Bapak dan Ibu.

Aji si bungsu … lelaki istimewa di keluarga … si kecil yang paling sabar dan bungsu tentunya mempunyai tempat khusus di hati Bapak dan Ibu.

578933_4419713652142_1693489856_n

???????????????????????????????

Bapak selalu bertindak adil terhadap anak-anaknya dengan membedakan perlakuan terhadap setiap anak, bagi beberapa orang ini adalah aneh namun bagi saya ini adalah tindakan paling adil karena kami bertiga mempunyai karakter yang berbeda walau lahir dari rahim yang sama. Lagi-lagi tindakan Bapak ini yang mendidik saya untuk sadar bahwa saya harus bisa memahami karakter semua orang dan bisa menerima perbedaan yang ada bukan berusaha menyatukan perbedaan yang ada.

Masa-masa indah saat kecil dulu selalu melekat di benak saya hanya karena Bapak dan Ibu selalu memberi contoh, ya … seperti itu Bapak saya … dia lebih suka memberi contoh daripada menasehati.

Nasihat melalui contoh perbuatan Bapak ini tidak akan pernah hilang dari benak saya, contoh perilaku yang Bapak selalu ajarkan ini jauh lebih efektif dibandingkan nasihat lisan.

Bapak dan Ibu memang selalu menjadi contoh saya selamanya ….

775718_4491719860094_1488241935_o

Ulang tahun saya yang pertama di tahun 1971 masih selalu saya ingat sampai detik ini … Bapak memang istimewa karena dia punya cara sendiri untuk membuat saya mengingat hal kecil yang sulit saya ingat. Foto hitam putih tahun 1971 …. saya duduk di tengah dengan kue ulang tahun, Bapak dan Ibu di sisi kanan dan kiri saya … Foto itu masih tersimpan rapi di album foto tua di rumahku … Foto itu benar-benar memberikan kenangan indah … pancaran mata penuh kasih terlihat di mata Bapak dan Ibu …

Eko kecil adalah anak kecil seperti layaknya anak kecil lain, saya sering pulang dengan luka di lutut atau muka lebam karena berkelahi dengan teman. Mengeluh kepada Bapak dan berharap belas kasihan adalah hal yang sia-sia saja.

Tatapan mata Bapak tidak pernah menyiratkan benci, tangan kekar Bapak tidak pernah digunakan untuk mengobati luka saya, namun ucapan Bapak selalu mengajarkan saya untuk bisa mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan orang lain. Tindakan Bapak inilah yang membuat saya menjadi anak mandiri dan siap dengan segala resiko, ternyata Bapak sedang mengajarkan saya untuk tumbuh menjadi Eko kecil yang berani dan sanggup mengalahkan diri sendiri.

Blangkon yang biasa Bapak kenakan menyimpan kelembutan dan kasih sayang yang tak pernah habis, lambang budaya Jawa begitu melekat di hati Bapak, entah sudah berapa ribu filosofi hidup yang disampaikan melalui tindakan dan ucapannya…  semua itu membentuk saya menjadi diri saya hingga saat ini.

Keris yang banyak tersimpan di rumah menyimpan banyak filosofi yang membangun kekuatan diri dan keluarga. Filosofi di balik keris adalah cerita indah yang selalu saya tunggu dari Bapak.

Seumur hidup saya baru satu kali saya melihat Bapak menangis … Bapak menangis ketika melepas adikku Ninil berumah tangga … baru kali itu saya melihat Bapak mengeluarkan air mata. Di balik air mata itu ternyata ada contoh kehidupan yang Bapak ajarkan … Bapakku hanya menangis saat bahagia karena telah berhasil mengantar adik kecilku menjalani kehidupannya. Bapak tidak pernah menangisi dirinya saat susah karena susah itu bukan untuk diumbar.

Seumur hidupku belum pernah mendengar bapak mengeluh bahkan ketika dia sedang dalam keadaan sulit. Pernah disampaikannya bahwa keluhan itu tidak akan menyelesaikan masalah, hanya tindakan nyata yang bisa membuat masalahmu selesai …

Gunung dan pantai adalah sahabatmu, alam adalah pelindungmu. Walau tidak pernah secara langsung mengajari saya untuk bertahan hidup di tengah hutan namun Bapak selalu mengijinkan saya untuk bermain dengan alam, selalu mengijinkan saya untuk masuk hutan. Untuk lebih mengenal alam dan membuat mereka bersahabat maka saya memang harus berkawan dengan alam.

Persahabatan dengan alam diawali cerita Bapak tentang cara bertahan hidup di dalam hutan, masih terngiang di benak saya bagaimana cara mengolah belalang menjadi belalang bakar yang gurih, bertahan hidup dengan memanfaatkan alam tanpa merusaknya kerap kali saya dengar, berulang kali cerita itu selalu saya harap terus diulang… bahkan sampai saat ini ….

Saya diajarkan untuk menjaga alam karena dengan cara itulah alam akan kembali menjaga kita…

Ada rasa bebas saya saya kecil … Bapak tidak pernah melarang saya melalukan kegiatan apapun asalkan positif, Bapak tidak pernah membatasi dengan siapapun saya bergaul, bahkan saya diijinkan bergaul dengan penjahat sekalipun …

Eko kecil bisa dengan bebasnya main kemanapun yang saya mau, Eko kecil bebas menentukan sendiri segala resiko yang akan dihadapi.

Kegagalan bukan sekali dua kali saya alami, bukan sekali dua kali saya mengeluh kepada Bapak dan Ibu. Bercerita tentang tabiat buruk kawan saya anggap lumrah sampai saya sadar ketika tak pernah ada tanggapan dari Bapak apabila saya bercerita tentang keburukan orang namun sebaliknya ketika saya bercerita tentang kebaikan orang … sorot mata Bapak mendadak cerah dan berbinar-binar … saya diberi contoh lagi bahwa hanya kebaikanlah yang pantas diceritakan … simpan keburukan orang karena hanya Tuhan yang berhak menilai keburukan orang … lagi-lagi filosofi yang ditanamkan melalui tindakan bukan ucapan.

Bapakku adalah kritikus, dia tidak akan duduk tenang kalau melihat sesuatu berjalan diluar kewajaran atau prosedur yang seharusnya. Bukan hal aneh kalau goresan  tinta atau ketukan jarinya di keyboard menghasilkan rangkaian kalimat tajam dan menusuk.

Tulisan-tulisan Bapak seringkali menohok hati dan mungkin itu sebabnya berkali-kali pula tidak bisa dimuat di media, kapok? tentu tidak … Bapak memberi contoh lagi melalui tindakannya, kalau tidak suka katakan langsung secara lisan maupun tulisan, jangan membicarakan orang di belakangnya.

Bapakku memang keras, namun lebih banyak menunjukkan kelembutan dan kasih sayangnya terhadap keluarga dan orang. Masa-masa kecil saya di rumah selalu diramaikan sanak saudara yang tinggal di rumah untuk sekolah, bahkan kami anak-anaknya dilatih untuk bisa berbagi kamar dengan mereka… tentunya tanpa keluhan, tentunya harus dengan hati yang ikhlas

???????????????????????????????

Bapak selalu memberi ruang terhadap siapapun yang serius ingin belajar. Rumah kecil kami di kompleks dosen tak pernah kosong, bahkan saat pindah ke rumah yang lebih besar selalu saja ada ruang dan tempat bagi yang ingin belajar… Bapak tidak hanya membesarkan dan mendidik anaknya saja tapi juga selalu berusaha mendidik dan membesarkan anak orang.

Ajaran tentang talang air selalu melekat di kalbu saya.. “Talang air jangan dibendung karena airnya akan tumpah dan terbuang mengotori sekitarnya… biarkan air mengalir dengan bebas dan menuju tempat yang seharusnya”… ini adalah ajaran tentang filosofi rejeki di keluarga kami.

26717_1337573842821_4058302_n

Blangkon dan Keris … sampai hari ini suasana Jawa masih selalu ada di rumah Bapak. Rangkaian cerita Bapak ketika sedang membersihkan keris selalu saya tunggu…. Masa-masa kecil dulu sering saya lalui dengan menemani Bapak membersihkan keris-kerisnya tentunya saya hanya melihat dan mengganggu bapak dengan pertanyaan Eko kecil yang terkadang hanya sekedar bertanya tanpa perlu jawaban, namun Bapak tak pernah bosan untuk menjawab dan terus bercerita serta menyelipkan filosofi kehidupan.

Blangkon yang ada di rumah kami macam-macam coraknya, setiap corak berasal  dari kain yang berbeda motif dan tentunya setiap motif itu sarat dengan makna.

Keris yang biasa dikenal sebagai salah satu senjata di Jawa adalah benda yang menjadi salah satu hobi bapak, koleksi keris sudah dilakukannya sejak dulu, bahkan mungkin sebelum saya lahir, bentuk keris, pamor keris, wrangka, dan empu pembuatnya selalu menorehkan cerita menarik di balik keris tersebut, cerita yang selalu saya harapkan keluar dari mulut Bapak, menarik karena dibalik setiap cerita itu selalu berisi filosofi hidup.

Blangkon dan Keris milik Bapak … bagi saya itu melambangkan kasih sayang serta kekuatan yang harus digunakan secara berdampingan dan saling menyimbangkan. Keputusan-keputusan tegas dibarengi welas asih selalu melekat di hati saya, kesantunan kraton serta keberanian hulubalang akan menjadi dasar kekuatan untuk menjalani hidup.

Let it flow … begitulah Bapak menjalani kehidupan… semua prinsip-prinsip dan tindakan positifnya melekat di benak saya dan adik-adik… Prinsip kesantunan dan menghargai perbedaan ini pula yang membentuk saya, Ninil dan Aji menjadi kakak adik yang saling melindungi, bahkan …. perselisihan paham di antara anak-anak Bapak dan Ibu terakhir kali terjadi saat kami masih SMA, dan sampai detik ini kami tidak pernah berselisih paham … filosofi Blangkon dan Keris yang membentuk kami untuk tetap saling menyayangi dan tetap tegas kepada prinsip masing-masing tanpa harus berselisih … terima kasih Bapak, terima kasih Ibu yang sudah banyak memberi bekal hidup bagi saya dan adik-adik.

Hari ini di usia Bapak yang ke 76 … saya semakin bangga karena Bapak tetap tegar, tetap sehat. Kehidupan Bapak dan Ibu di kota Bandung memang tidak seperti dulu lagi, saya belum mampu membalas segala pengorbanan Bapak dan Ibu hingga mereka tua … Saya belum mampu menandingi segala kesantunan, kesabaran dan keikhlasan Bapak dan Ibu.

DSC_1934

Mimpi-mimpi serta harapan Bapak dan Ibu terhadap kami anak-anaknya Insya Allah akan terwujud… saya dan adik-adik sudah memberikan tiga cucu kecil yang mampu mengobati rasa rindu Bapak dan Ibu kepada Eko kecil, Ninil kecil dan Aji kecil …

2694_1134322999429_1034394_n

Prinsip kesimbangan yang selalu Bapak ajarkan mulai membuahkan hasil, dulu kami bertiga disebut “Sendang Kapit Pancuran” dan sekarang cucu Bapak dan Ibu adalah “Pancuran Kapit Sendang”

Masih ribuan kalimat tentang ajaran kehidupan dari Bapak yang ada di benak saya walau tak sempat dituliskan namun segala yang pernah ditanamkan di diri saya akan terus tumbuh dan tak pernah hilang dari ingatan.

302125_2369478277539_1522368_n

Hari ini 8 Juni 2013 … Bapakku ulang tahun … Hari ini saya menyimpan rasa bangga terhadap Bapak karena saya masih mempunyai Bapak yang sabar, Bapak yang tidak pernah mengeluh dan selalu mendidik keluarganya dengan contoh tindakan yang baik.

Di hari ulang tahun Bapak ini saya juga ingin mengucapkan untaian kata yang dari dulu belum sempat saya sampaikan … Saya bangga bisa mempunyai ayah seperti Bapak.

Semoga Bapak dan Ibu akan selalu menjadi contoh bagi kami untuk hidup rukun bersama keluarga sampai usia tua nanti dan dapat menurunkan segala filosofi kehidupan kepada cucu-cucu Bapak dan Ibu.

DSC_1875

Mimpi dan harapan Bapak terhadap cucu-cucunya yang pernah dituliskan di salah satu buku karangannya : “Tunas-Tunas Yang Sedang Tumbuh Berkembang, Teriring Doa Agar Kelak Menjadi Putra-Putri Utama” akan saya laksanakan dengan membimbing mereka sehingga mimpi dan doa Bapak dan Ibu dapat terwujud

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja

Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

By Ada Band feat Gita Gutawa

3 thoughts on “Di Balik Blangkon dan Keris Bapak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s