Arsip Kategori: Tulisan Ayahku

Free Download E-Book Transportasi


Dear friends,

E-book di bawah ini adalah tulisan almarhum ayah saya tercinta KP. Suwardjoko Proboadinagoro Warpani, Ir. MTCP ( 2 Juni 1937 – 23 Februari 2016 )  dokumen-dokumen tulisan beliau saya kumpulkan untuk mengenang Bapak. Tidak terasa sudah hampir satu tahun bapak meninggalkan keluarga, …. miss you dad 😦 

Bapak memang sudah tidak ada, namun tulisan-tulisan Bapak akan selalu ada dan bermanfaat bagi orang banyak, Insya Allah menjadi pahala yang tidak pernah putus bagi Bapak yang sedang beristirahat di sisi Allah.

Dokumen ini adalah naskah asli ketikan Bapak sebelum naik cetak, memang masih ada beberapa kesalahan namun sengaja tidak diperbaiki demi menjaga keasliannya.

Dokumen ini ada yang berupa buku yang sudah diterbitkan, ada materi kuliah, tulisan di koran dan atau majalah, coretan-coretan kecil dan lain-lain.

Dokumen ini dibagikan secara GRATIS, untuk menghargai beliau mohon untuk  tidak memperdagangkannya.

16422814_10211685313389522_3754420461170568733_o
Karya Terakhir Bapakku menjelang akhir hayat, ditulis di usia senja menjelang kepergiannya.

Lanjutkan membaca Free Download E-Book Transportasi

Maksimum Minimum


Sudah sering kita dengar orang berkata atau dapati tulisan “semaksimum mungkin” dan/atau “seminimum mungkin” Benarkah frasa itu ? Logiskah ?

Menurut dua kamus yang menjadi acuan tulisan ini :

1.         Maximal (a) : greatest in amount or degree

            Maksimal (a) : sebanyak-banyaknya; setinggi-tingginya; tertinggi;

            Maximum (n) : greatest possible

            Maksimum (n) : yang paling banyak; yang paling tinggi; jumlah yang tertinggi;

2.         Minimal (a) : smalest in amount or degree

            Minimal (a) : sedikit-dikitnya; sekurang-kurangnya

            Minimum (n) : least possible

            Minimum (n) : yang paling kecil/sedikit; yang paling rendah;

Dalam KBBI 2008, kata paling mengandung makna “teramat”, artinya tak ada yang lebih; sedangkan ter- (prefik) mengandung makna “paling” misalnya : tercantik, terpandai.

Dalam pengertian matematika, maksimum adalah titik puncak, tertinggi, tak ada lagi yang lebih tinggi; sedangkan minimum adalah titik nadir, terendah, tak ada yang lebih rendah. Lantas, bagaimana mungkin sesuatu yang Lanjutkan membaca Maksimum Minimum

Angkot Bandung


Angkutan Umum Penumpang (AUP) memang seharusnya menjadi pilihan bagi mobilitas warga kota alih-alih kendaraan pribadi karena dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi, angkutan umum menawarkan: 1) total biaya perjalanan lebih murah; 2) waktu perjalanan lebih cepat; 3) layanan bisa diandalkan. Akan menjadi lebih menarik bila dilengkapi dengan kenyamanan, sedangkan “keamanan” sifatnya menyeluruh, bukan hanya di sektor angkutan.

Masalahnya apakah layanan AUP Kota Bandung sudah memenuhi syarat tersebut di atas ? Mengapa penggunaan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, seolah-olah tanpa kendali bahkan sepeda motor sekarang menjadi raja jalanan, atau malah setan jalanan sebagaimana dikeluhkan oleh Lanjutkan membaca Angkot Bandung

Lagi, Tentang Tangkubanparahu


Kira-kira dua tahun yang lalu saya turunkan artikel tentang Tangkubanparahu yang intinya mengkhawatirkan pengelolaan TWA Tangkubanparahu oleh PT.GRPP. Betapa tidak, karena garapan PT.GRPP tidak dapat dibenarkan dilihat dari sudut pandang RTRWN yang menetapkan kawasan Tangkubanparahu sebagai Kawasan Lindung (Lampiran II,VI,VIII,IX,X, dan XI). Kekhawatiran ini terjawab pada masa Lebaran 2012 yang lalu ketika kawasan tersebut diblokade massa. Berapa juta Rp kerugiannya ? Siapa yang menanggung rugi ?

Konon, dari 37 butir aspirasi masyarakat Tangkubaparahu, 28 butir telah diakomodasi oleh PT.GRPP, dan katanya pada tanggal 23 Agustus 2012 dijamin TWA Tangkubanparahu dibuka kembali.

Selesai ? Pada hemat saya BELUM.

 Picture1

Areal pariwisata adalah bagian dari tata ruang wilayah

 Fakta menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan negeri ini memang masih kacau balau. Untuk urusan pengembangan area pariwisata, tak jelas siapa komandannya sedangkan yang terlibat cukup banyak dan masing-masing mempunyai landasan hukum legal. Tak jelas “siapa melakukan apa”, tetapi yang jelas adalah “siapa saja bisa melakukan Lanjutkan membaca Lagi, Tentang Tangkubanparahu

TIDAK ADA BANJIR


(Tulisan ayahku tercinta pada 11 tahun yang lalu. Masih relevan untuk dibaca dan lucunya masih sesuai dengan kondisi saat ini…)

Penduduk Kampung Laut di Segara Anakan tidak pernah mengeluh kampungnya kebanjiran, padahal sehari-hari sepanjang tahun kampungnya berair cukup dalam.

Penduduk sepanjang tepian Sungai Mahakam yang rumahnya mengapung juga tidak pernah mengeluh kebanjiran. MCK adalah sang sungai.

Sumber Foto: http://www.bappenas.go.id/blog/?p=75
Sumber Foto: http://www.bappenas.go.id/blog/?p=75

Kira-kira tahun 1986, 38 desa di cekungan Bandung tergenang, dan kira-kira 60.000 jiwa harus diungsikan. Harta senilai Rp 300 juta (nilai kala itu) lenyap ditelan “banjir”, ribuan anak terpaksa tidak dapat masuk sekolah, ribuan orang (selain yang sudah ada di Rumah Sakit) harus dirawat di Puskesmas dan Posko Banjir. Itu banjir dahsyat yang disamakan dengan banjir Lanjutkan membaca TIDAK ADA BANJIR

Banjir euy !!! (Kilas Balik 11 tahun yang lalu)


Berikut ini ada tulisan lama, tulisan ayah saya 11 tahun yang lalu tentang banjir, cerita dan pemikiran tentang banjir yang ditulis dalam bahasa sederhana untuk dipahami, dari tulisan dibawah ini semoga kita dapat melihat apa saja kemajuan selama 11 tahun untuk mempersiapkan bencana banjir, selamat membaca … semoga berguna

Berikut ini tulisannya:

Banjir sudah lewat ? Benar, namun dapat dipastikan akan datang lagi; tak perlu ragu-ragu. Pasti pula derita pasca banjir sedang dalam proses pemulihan, jadi kita tak boleh lengah dan merasa bencana sudah usai. Justru pada saat inilah, sementara kita menangani bencana akibat banjir, kita harus bekerja dan berupaya keras merencana, merancang, dan membangun berbagai hal untuk menanggulangi banjir yang akan datang. Citra air bah harus “diubah” agar tidak mendatangkan musibah melainkan berbalik menjadi berkah.

Masyarakat, kecuali mereka yang menderita dan sedang bebenah merehabilitasi hartanya yang rusak akibat bencana banjir, tampaknya sudah “lupa” hiruk-pikuk ketika banjir melanda sejumlah kota di tanah air, termasuk Jakarta yang ibukota negara. Bahkan bukan tidak mungkin beberapa waktu lagi teriakannya berganti menjadi lagu derita kekurangan air. Biarkan itu urusan belakang, yang ada di depan hidung adalah bagaimana bisa duduk di kursi gubernur nan agung.

photo
Sumber Foto: http://news.loveindonesia.com/en/news/detail/112854/jokowi-atasi-banjir-jakarta-tak-mudah

                Bukankah pada masa “kering” kita harus kerja keras menghadapi masa kelebihan air yang bisa menjadi banjir, dan di kala air melimpah kita bekerja ekstra keras menampung air untuk menghadapi masa kering ? Sudahkah kita berpikir dan berbuat dengan pola ini; bersiap-siap menghadapi Lanjutkan membaca Banjir euy !!! (Kilas Balik 11 tahun yang lalu)

BAHASA INDONESIA PARA PEJABAT & ILMUWAN


–kurang percaya pada bahasa nasional–

Sumpah Pemuda telah berusia lebih dari tujuh dasa warsa. Salah satu butir sumpah itu berbunyi: Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Sayang, itu hanya sumpah layaknya sumpah seorang pemuda yang sedang mabuk kepayang pada seorang gadis; sumpah yang mudah tertumpah karena tiada tulang di lidah. Bangsa ini, terutama para pejabat dan amat banyak ilmuwan yang konon menjadi panutan, belum cukup kesatria untuk memegang teguh sumpahnya. Terlalu banyak alasan dicari-cari untuk dengan enteng menggunakan bahasa asing (terutama Inggris) alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia, meskipun istilah itu amat sangat mudah diperoleh padanannya dalam Bahasa Indonesia (atau bahasa daerah), bahkan sudah digunakan sehari-hari secara umum.

Bila para pemimpin (terutama) dan para cerdik pandai sudah tidak percaya kepada bahasanya sendiri, maka gembar-gembor: “GUNAKANLAH BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR”, hanya akan menjadi tertawaan sebagaimana sering diungkapkan oleh Timbul Sri Mulat. Bukan salah Timbul, tetapi itulah gaya dia “menyindir” kita yang mudah bersumpah karena lidah tak bertulang.

Sumber Foto: http://baltyra.com/2012/09/10/masih-meleset/

Bahasa, adalah salah satu butir Sumpah Pemuda, tetapi apa yang kita lihat sehari-hari ? Kita lebih senang menggunakan kata diskon alih-alih rabat atau potong harga. Kata jamban atau peturasan sudah menjadi kata asing karena di mana-mana yang kita lihat adalah Lanjutkan membaca BAHASA INDONESIA PARA PEJABAT & ILMUWAN

BAHASA INDONESIA, “SIAPAKAH” KAMU ?


Hasil UN memrihatinkan, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mengapa ? Tak perlu mencari “kambing hitam” karena kambing itu ada pada “mental” kita masing-masing. Kita sudah ingkar pada Sumpah Pemuda yang bergaung sudah hampir satu abad. Kita, termasuk para pejabat dan kebanyakan cendekiawan yang seharusnya menjadi panutan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, masih merasa lebih gagah menyelip-nyelipkan bahasa asing dalam bertutur dan menulis, padahal padanannya dalam Bahasa Indonesia sudah ada dan dikenal luas, atau kurang percaya pada kemampuan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia seolah-olah masih “asing” di negerinya sendiri. Bahasa Indonesia diremehkan, disepelekan. Salah satu bukti adalah hasil UN.

sumber gambar: http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/22/kenapa-harus-budi-bukan-badu/

UU No.24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, pasal 26-39 isinya me-wajib-kan penggunaan Bahasa Indonesia pada semua aspek kehidupan berbangsa. Pada pasal 30 tersurat “Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam Lanjutkan membaca BAHASA INDONESIA, “SIAPAKAH” KAMU ?

ANGKUTAN DALAM MASA KRISIS


Wahana Multi-Moda – BP3 Perhubungan

Angkutan adalah perpindahan orang/barang/hewan dari satu tempat ke tempat lain. Sistem perangkutan merupakan upaya memperlancar jalannya roda perekonomian antardaerah. Angkutan dibutuhkan dalam kondisi apapun, termasuk dalam masa krisis. Justru dalam masa krisis dibutuhkan berbagai upaya terobosan jalan keluar untuk lepas dari masa krisis. Krisis adalah masa-masa gawat yang mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Krisis bukan untuk dihindari. Bila mungkin, dihindarkan untuk menekan resiko sampai batas minimal; bila tidak mungkin dihindarkan, maka harus ditanggulangi, dicari jalan pemecahan untuk mengatasinya.

Krisis ekonomi yang melanda dunia telah menyebabkan arus perdagangan, ekspor-impor terganggu. Oleh karena itu, Presiden menginstruksikan agar kita tidak Lanjutkan membaca ANGKUTAN DALAM MASA KRISIS

Pulau Terluar ???


Akhir-akhir ini saya sering mendengar (ujaran orang dan penyiar TV) dan membaca tentang masalah perbatasan NKRI dengan disebutnya “Pulau Terluar”. Pulau-pulau yang harus kita jaga dan pelihara serta amankan agar tetap menjadi bagian NKRI. Nasib P.Ligitan dan P.Sipadan jangan terulang. Mengapa kita repot ‘mengurusi’ pulau terluar dan merisaukannya karena dirasakan sebagai ancaman terhadap kesatuan wilayah NKRI ? Apakah kita berhak ?

Menurut KBBI 1991, kata “luar” mengandung makna  (adj) asing, bukan berasal dari lingkungan (keluarga, daerah, negeri, dan sebagainya) sendiri; (n) 1. tempat, daerah, dan sebagainya yang bukan merupakan bagian dari sesuatu; 2. sisi, bagian, permukaan, dan sebagainya yang tidak berada di dalam.

Sumber gambar: http://kabarapasaja.blogspot.com/2012/05/ini-dia-daftar-pulau-terluar.html

Saya ‘merasa’ tahu (mudah-mudahan benar) bahwa yang dimaksud dengan “pulau terluar” adalah pulau-pulau yang masih termasuk dalam wilayah NKRI. Bila pengertian saya benar, artinya Lanjutkan membaca Pulau Terluar ???

Orangtua atau Orang Tua ?


Ketika dituturkan tak jelas benar bedanya kecuali dalam kontek kalimat, namun ketika ditulis akan jelas sekali perbedaannya meskipun tidak dalam susunan kalimat. Pengertian orangtua (satu suku kata) memang tidak sama dengan orang  tua (dua suku kata). Kata lain sering membingungkan penulis yang malas berpikir lebih cermat, adalah penggunaan kata keluar dan ke  luar, sama penuturannya tetapi tak sama penulisannya karena memang tak sama maknanya.

Orang Tua atau Orangtua ?

Cermat-cermatlah menulis. Bahasa tulisan memang tak sama dengan bahasa lisan. Dalam tulisan orang tidak melihat gerak tubuh si penutur, atau ekspresi muka, atau intonasi, atau suasana. Dalam bahasa lisan, kalimat tak sempurna pun masih dapat Lanjutkan membaca Orangtua atau Orang Tua ?

GELAR KESARJANAAN


Terbaca [mudah-mudahan tidak salah ‘baca’] kerisauan hati Mang H. Us Tiarsa, barangkali juga karena kerisauan hati penulis, suatu saat kita belajar Cianjuran bukan di STSI Bandung atau di Cianjur, melainkan di Kalifornia [PR 20 Maret 2007]. Memang tidak mustahil, dan sudah ada beberapa bukti. Sejumlah Doktor Bahasa Indonesia, Doktor Tari Jawa, Doktor Bahasa Jawa mendapatkan gelar puncak itu di luar negeri; tidak di Indonesia.

Sumber Gambar: http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/03/14/baru-lulus-sarjana-minimal-gaji-22-jutabulan/

Mengapa ? Karena kita ‘silau’ oleh gelar, atau kasarnya ‘gila gelar’, bukan kemampuan seseorang. MM yang diperoleh melalui kuliah setiap Sabtu malam (Malam Minggu) selama beberapa bulan, dan Doktor yang diperoleh melalui ketebalan dompet dengan desertasi entah bikinan siapa, lebih Lanjutkan membaca GELAR KESARJANAAN

DI MANA? Sudah tahu kok bertanya?


“Di mana” (amat banyak yang masih menuliskannya “dimana”), dalam bahasa Indonesia adalah ungkapan untuk menanyakan tempat. Bila kita simak berbagai tulisan (makalah dan di media cetak) serta ungkapan para pemandu acara, bertebaran kata “di mana” yang tidak tepat atau salah tempat atau tidak diperlukan. Bila kita cermati, jelas sekali bahwa kata itu adalah terjemahan dari kata “where” dalam bahasa Inggris yang tidak selalu bertanya tempat. Kata  “where” (yang bukan menanyakan tempat) dapat dihilangkan/diabaikan saja atau diterjemahkan/dipadankan dengan salah satu dari kata berikut ini: yangtempat,  dan, kala/ketika/saat/waktu, dengan, keterangan.

Sumber Gambar: http://camilan.sepocikopi.com

Patuh pada kaidah bahasa

Bahasa Indonesia mengenal kelompok kata sambung yang sering kali tidak kita manfaatkan dengan baik. Kita memiliki kata sambung antara lain: Lanjutkan membaca DI MANA? Sudah tahu kok bertanya?

Nasib Lalu Lintas Sekitar Gedong Sate Bandung


Tidak perlu teori canggih, sekarang sirkulasi lalin di sekitar Gedong Sate sudah “sakit”, artinya tidak lancar, apalagi pada akhir minggu dan bila ada kegiatan di lapangan Gasibu (boleh dibilang, inilah alun-alun Kota Bandung kini). Keadaan lalu-lintas tidak sebagaimana semua orang berharap, lancar tidak semrawut. Pembangunan Gedung DPRD sudah dimulai, tetapi rekayasa jaringan jalan di sekitarnya masih pada tahap wacana, entah kapan terwujud. Sangat mudah diprediksi bahwa akan terjadi kesemrawutan lalu-lintas luar biasa di sekitar Gedong Sate.

sumber foto: http://www.scribd.com/doc/3061212/Gedung-Sate-Bandung

Masyarakat memang “kaget”, karena wacana gedung DPRD yang lama tenggelam tiba-tiba sudah menjadi tindakan nyata “pembangunan dimulai”. Ada kesan, pemerintah bersama Lanjutkan membaca Nasib Lalu Lintas Sekitar Gedong Sate Bandung

MENJUNJUNG TINGGI BAHASA NASIONAL, BAHASA INDONESIA


(Berikut ini adalah tulisan ayah saya Suwardjoko P. Warpani yang saya terbitkan ulang, selanjutnya akan ada lagi beberapa tulisan / opini beliau)


Enampuluh tahun Bangsa Indonesia sudah merdeka, namun baru merdeka sebagai suatu negara yang mempunyai nama dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mempunyai pemerintahan sendiri; sedangkan di berbagai aspek kehidupan dan penghidupan masih menyandang tanda tanya besar apakah kita sudah merdeka. Salah satunya adalah di bidang kebahasaan; Bahasa Indonesia Belum Merdeka.

Lebih dari 70 tahun yang silam, kita sudah bersumpah bahwa bahasa nasional kita adalah Bahasa Indonesia, namun bangsa yang sudah 60 tahun merdeka ini masih juga belum memiliki kepercayaan diri untuk menjunjung tinggi bahasa nasional, Bahasa Indonesia. sebagaimana sumpahnya. Istilah atau kata-kata yang sudah sangat dipahami dalam Bahasa Indonesia, banyak yang diabaikan dan para penutur serta penulis lebih percaya kepada bahasa asing (terutama Inggris), padahal diutarakan di Indonesia, ditujukan kepada masyarakat Indonesia, tentang masalah Indonesia, oleh orang Indonesia. Kita lebih bangga menyelipkan kosa kata bahasa asing (Inggris) meskipun tidak jarang terasa janggal.

Penulis tidak anti pada Lanjutkan membaca MENJUNJUNG TINGGI BAHASA NASIONAL, BAHASA INDONESIA

Korupsi Bahasa Indonesia


Berikut ini adalah tulisan ayah saya, Suwardjoko Warpani tentang Bahasa Indonesia, beliau sering mengisi waktu luangnya dengan mengamati pengunaan Bahasa Indonesia dan menuliskannya secara singkat, ini adalah salah satu tulisannya. Selain tulisan ini saya juga akan menambahkan beberapa tulisan ayah saya tentang Bahasa Indonesia.

KORUPSI  BAHASA  INDONESIA

S . P . W a r p a n i

Lanjutkan membaca Korupsi Bahasa Indonesia